<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>FORKOM ALIMS &#187; Book Review</title>
	<atom:link href="http://www.forkomalims.com/category/book-review/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.forkomalims.com</link>
	<description>::kuat di dalam, memberi manfaat ke luar::</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Nov 2009 13:51:49 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Al Qiyadah Wal Jundiyah</title>
		<link>http://www.forkomalims.com/all/al-qiyadah-wal-jundiyah/</link>
		<comments>http://www.forkomalims.com/all/al-qiyadah-wal-jundiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Oct 2009 10:43:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[All]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.forkomalims.com/book-review/manajemen-diri/al-qiyadah-wal-jundiyah/</guid>
		<description><![CDATA[Judul Asli : Bainal Qiyadah Wal Jundiyah
 
Oleh : Syaikh Mushthafa Masyhur
 
Penterjemah : Abu Ridho
 
Penerbit : Al Ishlahy Press, Jakarta
Daftar Isi :
MUQODIMMAH
AMANAH , TANGGUNG JAWAB PEMIMPIN DAN ANGGOTA
KEANGGOTAAN DAN TUNTUTANNYA


MUQODDIMAH
Islam tidak rela atas ketidakberdayaan ummatnya dalam menghadapi kenyataan. Islam tidak menghendaki kaum muslimin lemah dan takluk kepada musuh – musuhnya. Setiap muslim wajib [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family:Arial"><em>Judul Asli : Bainal Qiyadah Wal Jundiyah</em></span></p>
<p><em> </em></p>
<p><span style="font-family:Arial"><em>Oleh : Syaikh Mushthafa Masyhur</em></span></p>
<p><em> </em></p>
<p><span style="font-family:Arial"><em>Penterjemah : Abu Ridho</em></span></p>
<p><em> </em></p>
<p><span style="font-family:Arial"><em>Penerbit : Al Ishlahy Press, Jakarta</em></span></p>
<p><span style="font-family:Arial"><em>Daftar Isi :</em></span></p>
<p><a href="#muqodimmah"><span style="font-family:Arial"><strong>MUQODIMMAH</strong></span></a></p>
<p><a href="#amanah"><span style="font-family:Arial"><strong>AMANAH , TANGGUNG JAWAB PEMIMPIN DAN ANGGOTA</strong></span></a></p>
<p><a href="#keanggotaan"><span style="font-family: Arial;"><strong>KEANGGOTAAN DAN TUNTUTANNYA</strong></span></a></p>
<p><span style="font-family:Arial"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><a name="muqodimmah"><span style="font-family:Arial"><strong>MUQODDIMAH</strong></span></a></p>
<p><span style="font-family:Arial">Islam tidak rela atas ketidakberdayaan ummatnya dalam menghadapi kenyataan. Islam tidak menghendaki kaum muslimin lemah dan takluk kepada musuh – musuhnya. Setiap muslim wajib bergerak dan berjuang serta berkorban untuk menegakkan Islam, membangun Daulah dan Khilafah Islamiyyah yang di dalamnya tegak hukum – hukum Allah supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata – mata bagi Allah ( Q.S Al Anfal : 39 ). Ketika itulah setiap mu&#8217;min bergembira dengan pertolongan Allah. Allah menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Yang Mahagagah dan Yang Mahamulia.</span></p>
<p><span style="font-family:Arial">Karena itu perjuangan melalui amal jama&#8217;i yang digerakkan sebuah jama&#8217;ah Islam yang menyeru penggabungan untuk persatuan kaum muslimin seluruh dunia, harus tersusun rapih, kuat dan terkoordinasi ( Q.S 3 : 103 ). Siroh Rasululloh SAW merupakan pengalaman praktis bagi seluruh da&#8217;wah Islam. Kemudian diikuti oleh Khulafa Al Rasyidin dengan manhaj</span><span style="font-family:Arial"> rasulullah SAW.</span></p>
<p><span style="font-family:Arial">Seluruh organisasi atau bangsa – bangsa, asas keberhasilannya, kebangkitan dan pembangunannya ialah adanya manhaj tertentu, pimpinan dan anggota kelompok yang bergerak dengan manhajnya. Syarat ideal yang dimiliki setiap muslim : aqidahnya lurus, ibadahnya benar, berakhlaq mulia, berfikiran cerdas, bijak, berbadan sehat dan kuat serta berguna bagi manusia, mampu bergerak dan berjuang, berdisiplin dalam segala hal, menjaga waktunya, bermujahadatunnafs dan memiliki faktor – faktor asasi sebagai pejuang muslim.</span></p>
<p><span style="font-family:Arial">Apapun kedudukan, jabatan dan peringkatnya, setiap aktifis da&#8217;wah tetap memikul amanah dan berbagai tanggung jawab, bukan suatu kemegahan dan kebanggaan. Allah akan meminta pertanggungjawaban setiap aktifis atas amanah yang dipegangnya dan semua akan dihisab.</span></p>
<p><a name="amanah"><span style="font-family:Arial"><strong>A. AMANAH , TANGGUNG JAWAB PEMIMPIN DAN ANGGOTA.</strong></span></a></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><span style="font-family:Arial"><strong>I. Hal – Hal Yang Membantu Terlaksananya Tugas Pemimpin :</strong></span></p>
<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li><span style="font-family:Arial">Ikhlas karena ALLAH semata, selalu bertindak benar dan jujur kepada-Nya.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Peka terhadap pengawasan dan penjagaan ALLAH SWT.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Memohon pertolongan dan perlindungan ALLAH dalam seluruh keadaan dan aktivitasnya.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Memiliki rasa tanggung jawab besar.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Memberikan perhatian yang cukup kepada masalah tarbiyah dan menyiapkan kader penerus.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Terjalinnya rasa kasih sayang dan ukhuwah yang tulus di kalangan anggota organisasi khususnya anggota dan pimpinan.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Pimpinan harus benar – benar merencanakan program yang tepat, menentukan tujuan, tahapan, cara, sarana, persiapan – persiapan sesuai dengan kemampuan.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Setiap anggota organisasi harus merasakan bagaimana beratnya amanah dan tanggung jawab pimpinan.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Pimpinan harus memiliki cita – cita dan tekad berjuang.
<p></span></li>
</ol>
<p><span style="font-family:Arial">Menurut Imam Hasan al-Banna faktor – faktor lain keberhasilan adalah :</span></p>
<ol>
<li><span style="font-family:Arial">Kekuatan da&#8217;wah kita yang merupakan da&#8217;wah ALLAH, da&#8217;wah yang paling tinggi dan mulia.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Tujuan yang murni ( ridho ALLAH ), terbebas dari niat kotor dan mencari keuntungan pribadi.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Ketergantungan kita hanya kepada pertolongan dan dukungan ALLAH. ( Q.S 3 : 173 – 174 ) &#8220;Kalian tidak akan terkalahkan karena sedikitnya jumlah kalian, lemahnya sarana dan kurangnya alat – alat pendukung, atau karena banyaknya musuh kalian, berkumpulnya musuh – musuh menentang kalian. Tetapi ada satu sebab yang dapat menghancurkan dan menyebabkan kalian kehilangan segala – galanya, yaitu jika hati kalian telah rusak, ALLAH tidak memperbaiki amal kalian, suara kalian telah terpecah belah dan saling bertentangan pendapat &#8220;.
<p></span></li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<p><span style="font-family:Arial"><strong>II. Sifat Dan Akhlak Yang Harus Dimiliki Oleh Setiap Pemimpin :</strong></span></p>
<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li><span style="font-family:Arial">Senantiasa mengharapkan akhirat dengan ikhlas karena ALLAH semata.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Berdaya ingat kuat, bijak, cerdas, berpengalaman dan berwawasan luas, berpandangan jauh ke depan dan tajam, mampu menganalisa berbagai persoalan dari segala segi dengan tepat dan cepat. ( Q.S 3 : 200 )
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Berperangai penyantun, kasih sayang, lemah lembut dan ramah.( Q.S 3 : 159 )
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Bersahabat.( Q.S 5 : 54 )
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Berani dan sportif, tidak pengecut dan membabi buta.( Q.S Al Fath : 29 )
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Shidiq. ( Q.S Al Ahzab : 23 – 24 )
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Tawadhu. ( Q.S Asyu&#8217;ara : 215 )
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Memaafkan, menahan amarah dan berlaku ihsan.( Q. S 3 : 134 )
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Menepati janji dan sumpah setia. ( Q.S Al Fath : 10 )
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Sabar. ( Q. S 2: 153 )
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">&#8216;Iffah ( kesucian jiwa ) dan kiram ( tidak mudah untuk tunduk kepada hawa nafsu dan yang mengotori jiwa. ) Q. S Al Hasyr : 9.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Wara&#8217; ( menjauhkan dari hal syubhat ) dan zuhud ( meninggalkan hal berbuat dosa ).
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Adil dan jujur. ( Q.S 5 : 8 )
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Tidak mengungkit – ungkit dan menyombongkan diri.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Memelihara hal – hal yang dimuliakan ALLAH. ( Q.S Al Hajj : 30 )
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Berlapang dada dan tidak melayani pengumpat dan pengadu domba.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Tekad yang bulat, tawakkal dan yakin. ( Q.S Athalaq : 3 )
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Sederhana dalam segala hal.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Bertahan dalam kebenaran dengan teguh dan pantang mundur.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Menjauhi sikap pesimistis dan over estimasi
<p></span></li>
</ol>
<p><span style="font-family:Arial"><strong>III. Tabiat Gerakan dan Medannya.</strong></span></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><span style="font-family:Arial">Seorang pemimpin harus memperhatikan hal – hal berikut :</span></p>
<ol>
<li><span style="font-family:Arial">Harus beriltizam ( taat ) dengan tujuan berdirinya jama&#8217;ah.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Memelihara keuniversalan tujuan dan medan gerakan sengan seluruh konsekuensinya.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Menjaga tabiat tahapan da&#8217;wah. ( Tajarrud = berangsur – angsur, ta&#8217;rif = pengenalan, takwin = pembentukan dan tanfidz = pelaksanaan. )
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Kewajiban memberikan perhatian serius terhadap tarbiyah di setiap peringkat.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Memperhatikan seluruh aktivitas politik.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Harus mengawasi sikap jama&#8217;ah dan jama&#8217;ah – jama&#8217;ah lainnya.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Tahap perjuangan kita yang akan datang lebih ditekankan kepada bentuk jihad dan menegakkan hukum ALLAH di seluruh aspek kehidupan.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Mempersiapkan seluruh masyarakat untuk menjadi asas kuat bagi tegaknya hukum dan pemerintahan Islam yang mantap dan utuh.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Wanita muslimah dapat memainkan peranan penting dalam amal Islami.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Memperhatikan generasi muda dengan mendidik kepribadian Islamnya.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Harus berusaha sungguh – sungguh mewariskan da&#8217;wah ini kepada generasi mendatang dengan segala kemurnian, keaslian, keuniversalan dan pengalamannya.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Da&#8217;wah ini meliputi berbagai negara, bangsa dan warna kulit.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Dana adalah urat nadi amal Islami.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Memanfaatkan dengan sebaik – baiknya pengalaman dalam gerakan dan realitas keragaman aktivitas Islami.
<p></span></li>
</ol>
<p><span style="font-family:Arial"><strong>IV. Beberapa Petunjuk Dalam Bergerak.</strong></span></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><span style="font-family:Arial">Petunjuk untuk seorang pemimpin agar dapat menjalankan roda da&#8217;wah ke arah yang lebih baik :</span></p>
<ol>
<li><span style="font-family:Arial">Memberikan perhatian yang menyeluruh terhadap tugas dan tanggung jawab.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Memiliki kepercayaan kuat terhadap tugasnya.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Setiap penanggung jawab harus menyusun program kerja lengkap.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Tepat dalam memilih petugas yang dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Pemimpin dituntut mengatur waktu dan urusannya seefektif mungkin.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Selalu sadar dan tanggap demi terjaminnya perjalanan da&#8217;wah.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Memiliki kecekatan dan kekuatan tekad.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Menumpukkan perhatiannya kepada usaha yang sangat diperlukan, tidak perlu banyak diskusi.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Menghindari memberikan satu pendapat dalam masalah khilafiyah.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Berkewajiban menjauhkan jama&#8217;ah dari terjerumus ke dalam permusuhan golongan.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Berda&#8217;wah adalah ibadah kepada ALLAH.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Harus percaya atas ketinggian moral anggotanya yang bertugas.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Tidak boleh membatasi aktivitasnya semata – mata untuk masa sekarang.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Ia harus benar – benar meningkatkan dan mengembangkan cara kerja, sarana serta mutu.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Bertanggung jawab dalam menilai dan mengevaluasi amal dan hasil setiap saat.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Tidak boleh membanggakan dan menyanjung kemampuan, tenaga dan kelaikannya yang menyebabkan seseorang terjerumus.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Tidak wajar mengkonsentrasikan segenap kegiatannya dalam urusan administrasi semata dengan menyampingkan segi aktivitas dan mentalitas yang menjadi dasar perjuangan.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Harus memiliki berbagai kelaikan untuk memudahkan perputaran roda kepepimpinan dan amal usaha ketika terjadi suasana kritis.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Ukuran keutuhan dan kekompakkan kepemimpinan adalah kekuatan jama&#8217;ah dan kepercayaan anggota terhadap kepemimpinannya.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Menjauhkan konflik dengan orang lain selama masih dapat dihindari.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Semangat pemuda harus dipelihara dan diarahkan serta selalu dikontrol.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Melindungi jama&#8217;ah dari munculnya berbagai aliran pemikiran yang bertentangan dengan khiththah ( ketentuan ) jama&#8217;ah.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Tidak dibenarkan membiarkan terbentuknya kelompok tertentu yang berdasarkan suku, kedaerahan dan semacamnya.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Menyelesaikannya dengan tenang dan tuntas serta penuh kebijaksanaan dalam permasalahan.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Jika terdapat seorang yang lebih mampu dan baik, kepepimpinan dapat diserahkan kepada orang lain.
<p></span></li>
</ol>
<p><span style="font-family:Arial"><strong>V. Beberapa Petunjuk Pergaulan Antara Pemimpin Dan Anggota :</strong></span></p>
<ol>
<li><span style="font-family:Arial">Pemimpin harus pandai memilih orang yang laik dalam memegang jabatan.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Tidak boleh bersikap pesimitis dan buruk sangka.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Pemimpin dapat bergaul rapat dengan anggotanya.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Memperbaiki pembagian tugas dan menentukan spesialisasi supaya tidak tumpang tindih.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Menentukan, mengatur dan memudahkan jalur komunikasi di setiap peringkat.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Berusaha sungguh – sunguh meningkatkan posisi kepemimpinan dan melatih anggota sesuai dengan bidang masing – masing.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Penting memberikan kebebasan kepada anggota untuk memilih sarana dan cara yang paling baik yang dapat membantu pelaksanaan tugasnya.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Selalu membangkitkan semangat kerja sama yang penuh kejujuran dengan anggota.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Harus membiasakan diri bermusyawarah dengan para anggotanya.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Menentukan keputusan dan perintah yang hendak dilaksanakan.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Diadakannya pertemuan rutin dengan sesama pengurus untuk menyelaraskan gerakan.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Memperhatikan setiap rangkaian dan mata rantai dalam komunikasi, tidak overlapping.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Perlu dikaji situasi yang menyebabkan anggota yang melakukan kesalahan tersebut.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Mewaspadai dalam menjalankan tindakan pemecatan dan pembekuan keanggotaan karena kesalahan yang dilakukan.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Memperhatikan setiap anggota yang diberikan amanah dan cepat menegurnya jika melakukan kesalahan.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Perlu mendorong dan meningkatkan semangat anggota yang menjalankan amanahnya.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Semua anggota bekerja semata – mata karena ALLAH .
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Memiliki pengetahuan lengkap tentang perjalanan gerakan, pelaksanaan dan aktivitas yang dilakukan para pelaksana.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Meminta pandangan dan saran anggota tertentu yang berguna kelancaran strategi da&#8217;wah.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Anggota tidak boleh diberi amanah kecuali ia telah menguasai bidang tersebut.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Orang yang terlalu bersemangat sebenarnya sangat berbahaya jika diberikan amanah yang strategis.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Meningkatkan moral anggotanya jika mengalami peristiwa ketidakberuntungan. ( Q.S 3 : 139 – 141 )
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Memperhatikan kelurusan, keaslian dan kemantapan jalan da&#8217;wah serta menjauhi bentuk penyimpangan.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Memadukan antara generasi pertama dan generasi penerus dalam setiap kegiatan.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Mewaspadai terhadap usaha musuh yang berpura – pura bergabung sebagai batu loncatan untuk tujuan mereka.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Memelihara tabiat gerakan da&#8217;wah dengan seluruh potensi yang ada.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Waspada dan berhati – hati dalam mengeluarkan keputusan yang menyangkut darah seorang muslim, kecuali setelah di cek dengan teliti.
<p></span></li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<p><a name="keanggotaan"><span style="font-family:Arial"><strong>B. KEANGGOTAAN DAN TUNTUTANNYA.</strong></span></a></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><span style="font-family:Arial"><strong>I. Beberapa Persyaratan Pokok Seorang Aktivis :</strong></span></p>
<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li><span style="font-family:Arial">Memahami benar arti komitmennya kepada Islam.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Mengenal karakter tahapan da&#8217;wah yang sedang dijalaninya beserta konsekuensinya.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Meyakini bahwa kembali kepada kitabullah dan sunnah rasul SAW secara benar dan serius adalah satu – satunya jalan untuk menyelamatkan ummat Islam dari segala krisis.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Yakin akan kewajiban bergerak membangunkan iman di dalam jiwa manusia.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Harus mengetahui sejelas – jelasnya bahwa amal usaha menegakkan Daulah Islamiyyah adalah kewajiban setiap muslim dan muslimah.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Mengetahui bahwa kewajiban ini tidak mungkin terlaksana dan tercapai hanya dengan usaha perseorangan.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Amal jama&#8217;i dipandang sebagai persoalan yang wajib ditunaikan sebelum melangkah membangun kembali Daulah Islamiyyah.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Harus menyadari perlunya memilih jama&#8217;ah yang akan dimasukinya.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Harus meneliti sifat – sifat asasi jama&#8217;ah tersebut.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Harus mengetahui bahwa dasar Islam adalah kesatuan kata dan shaff. ( Q.S 3 : 103, 8 : 46 )
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Dalam memilih harus dengan kesadaran sendiri, tidak karena desakan, paksaan, berpura – pura tenggang rasa dan kepentingan lain.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Amal jama&#8217;i memiliki syarat dan keiltizaman yang harus diketahui.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Dasar ber-Amal jama&#8217;i semata – mata karena ALLAH. ( Q.S Al Fath : 10 )
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Setiap anggota jama&#8217;ah harus menyadari akan kebaikan yang tak ternilai dengan bergabungnya di dalam jama&#8217;ah yang memperjuangkan Islam secara benar.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Harus mengetahui bahwa persoalan terpenting di jalan da&#8217;wah ialah kesadaran terhadap pengawasan ALLAH SWT.
<p></span></li>
</ol>
<p><span style="font-family:Arial"><strong>II. Beberapa Keharusan Dan Perilaku Anggota Yang Harus Ditegakkan :</strong></span></p>
<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li><span style="font-family:Arial">Menjadi seorang mu&#8217;min yang teguh dan yakin terhadap amal jama&#8217;i dengan segala tuntutannya. ( Q.S Al Hajj : 77 – 78, Al Mu&#8217;minun : 115 – 116 )
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Harus mengetahui secara mendalam segala ketentuan jama&#8217;ah.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Harus melengkapi diri dengan berbagai bidang kemampuan dan kelaikan agar menjadi tenaga yang efektif, kuat dan baik.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Menyerahkan hidupnya untuk berjuang karena ALLAH dan menegakkan kekuasaan agama ALLAH semata.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Keiltizamnya dengan arahan.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Beriltizam dengan pemahaman Islam yang benar dan menyeluruh yang menjadi landasan jama&#8217;ah.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Beriltizam dengan cara gerakan dan seluruh langkahnya sebagai mana yang telah ditentukan jama&#8217;ah untuk mewujudkan tujuannya yang agung.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Menjadi pelindung terpercaya terhadap tujuan jama&#8217;ah.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Harus berani menempatkan dirinya di barisan jihad fiisabilillah. ( Q.S 9 : 111, Al Ankabut : 6 )
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Harus mengetahui martabat jihad.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Berkewajiban melatih diri agar mudah berkorban di jalan ALLAH. ( Q.S 9 : 120 – 121 )
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Harus menyadari bahwa sesungguhnya dia ibarat berkedudukan di suatu daerah pertahanan yang strategis. ( Q.S Al Ahzab : 23 – 24 )
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Ujian ( mihnah ) adalah sunnahtulloh dalam da&#8217;wah.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Pembela aqidah dan prajurit da&#8217;wah harus mengikhlaskan ketaatan dan kesetiaannya ( wala&#8217; )
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">kepada da&#8217;wah Islamiyyah dan melepaskan diri dari yang lain. ( Q.S Almumtahanah : 4 )
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Berkewajiban menanam dan mempersubur benih cinta – mencintai persaudaraan sesama anggota. ( Q.S 9 : 71, 16 : 53 )
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Membiasakan diri melaksanakan setiap perintah pimpinan jama&#8217;ah.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Memberikan kepercayaan penuh kepada pimpinan jama&#8217;ah.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Setiap anggota harus memiliki &#8221; indera da&#8217;wah. &#8221;
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Memperhatikan pembentukan pribadi muslim yang spesifik dan mencintai kebenaran.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Menjauhi cara – cara partai politik yang jahat, kedaerahan, elitis dan yang bertentangan dengan adab Islam.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Anggota ibarat pengawal di sebuah benteng pertahanan.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Menjauhi segala tindakan yang mempersukar barisan di dalam amal Islami.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Wajib beriltizam dengan sikap adil dan sederhana, tidak keterlaluan dan tidak meremehkan.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Mempergiat makanisme saling nasihat – menasihati kepada kebenaran.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Perbaiki diri dan seru orang lain untuk berbuat baik.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Harus bersungguh – sunguh memperbaiki hubungan dan komunikasi dengan sesama aktivis.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Wajib menjaga waktunya dengan serius, berdisiplin, seluruh urusannya rapi, berguna untuk manusia, mampu berusaha, mujahid untuk dirinya, waspada terhadap godaan duniawi.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Harus memikirkan persoalan rumah tangga dan keluarganya.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Selalu menumbuhkan harapan di dalam hati keluarga dan saudara – saudaranya bahwa masa depan adalah untuk Islam.
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Tidak boleh merasa pesimis dan putus asa ketika menderita kekalahan di medan jihad dalam menentang musuh. ( Q.S 3 : 139 – 142 dan 146 )
<p></span></li>
<li><span style="font-family:Arial">Harus menghiasi dirinya dengan seluruh akhlaq Islam dan menjauhi segala budi pekerti buruk dan sifat – sifat yang dilarang Islam.
<p></span></li>
</ol>
<p><span style="font-family:Arial"><strong>Panduan Imam Hasan Al Banna untuk para pemuda :</strong></span></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><span style="font-family:Arial">&#8221; Wahai pemuda ! Fikroh ini akan menang jika kita memiliki iman kuat, tulus dan ikhlas kepadanya, punya semangat yang berkobar – kobar, kesiapan berkorban dan beramal untuk mewujudkannya. Empat rukun ini : Iman, Ikhlas, semangat dan amal, merupakan ciri khas pemuda. Sesungguhnya dasar iman adalah hati yang hidup, asas ikhlas ialah hati yang suci murni, landasan semangat yaitu perasaan yang kuat dan amal adalah tekad yang selalu segar &#8220;.</span></p>
<p><span style="font-family:Arial">ALLAH Berfirman : &#8221; Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda – pemuda yang beriman kepada Rabb mereka dan kami tambahkan kepada mereka petunjuk. &#8221; Q.S Al Kahfi : 13.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.forkomalims.com/all/al-qiyadah-wal-jundiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencari Pahlawan Indonesia (by Ardhya I)</title>
		<link>http://www.forkomalims.com/book-review/manajemen-diri/mencari-pahlawan-indonesia/</link>
		<comments>http://www.forkomalims.com/book-review/manajemen-diri/mencari-pahlawan-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Sep 2009 00:57:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>albinadigital</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manajemen Diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://albinadigital.wordpress.com/?p=49</guid>
		<description><![CDATA[Penulis              : Anis Matta
Penerbit            : The Tarbawi Center, 2004

Mencari Pahlawan Indonesia merupakan kumpulan tulisan dari Anis Matta yang pernah dimuat dalam Serial Kepahlawanan di Majalah Tarbawi. Kumpulan tulisan ini bukanlah kumpulan angan-angan tentang sosok seorang yang turun dari langit untuk menjadi juru selamat dari krisis multidimensi yang melanda bangsa ini. Kumpulan tulisan ini justru [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis              : Anis Matta</p>
<p>Penerbit            : The Tarbawi Center, 2004</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-50" title="image001" src="http://albinadigital.files.wordpress.com/2009/09/image001.jpg" alt="image001" width="232" height="342" /></p>
<p><em>Mencari Pahlawan Indonesia</em> merupakan kumpulan tulisan dari Anis Matta yang pernah dimuat dalam <em>Serial Kepahlawanan</em> di Majalah Tarbawi. Kumpulan tulisan ini bukanlah kumpulan angan-angan tentang sosok seorang yang turun dari langit untuk menjadi juru selamat dari krisis multidimensi yang melanda bangsa ini. Kumpulan tulisan ini justru mengajak kita untuk bersama-sama menelaah nilai-nilai dari seorang pahlawan serta faktor-faktor dibalik kepahlawanan seseorang. Kumpulan tulisan dalam bentuk sebuah buku ini pun mengajak kita untuk menumbuhkan suatu sosok pahlawan dari dalam diri kita, karena setiap diri kita memilki potensi untuk menjadi seorang pahlawan.</p>
<p><strong>Filosofi </strong></p>
<p>Apakah sebenarnya “pahlawan” itu? Banyak dari kita, yang masih memiliki paradigma bahwa seorang pahlawan adalah orang suci yang turun dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Padahal sebenarnya orang-orang yang kita kenal sebagai sesosok pahlawan yang nyata selama ini adalah manusia biasa pula. Manusia biasa, sama seperti kita. Karena, pahlawan sesungguhnya adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis. Mereka hanya manusia biasa yang berusaha memaksimalkan seluruh kemampuannya untuk memberikan yang terbaik yang terbaik bagi orang-orang di sekelilingnya. Namun, yang tidak kalah penting bagi seorang pahlawan adalah nilai keikhlasan. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa “pahwalawan” dapat menjadi suatu gelar yang diberikan oleh masyarakat. Nilai keikhlasan menjadi penting sebab keikhlasan lah yang akan membawa setiap orang pada hakikat yang besar dan abadi, dimana setap orang akan ditempatkan dengan layak, adil, dan objektif.</p>
<p><strong>Trilogi Dunia<span id="more-49"></span></strong></p>
<p>Ya, pahlawan adalah seorang manusia biasa. Manusia biasa yang tentunya tidak akan lepas dari ujian Allah SWT yang terangkum dalam “trilogi dunia”; harta, tahta, dan wanita. Namun, ketika semua itu dihadapi dengan kesabaran, “trilogi dunia” dapat menjadi sumber kekuatan yang akan terus menyalakan api kepahlawanan dalam diri seseorang.</p>
<p>Wanita adalah sosok yang penting bagi seorang pahlawan, yang menempati ruang yang begitu luas dalam jiwa seorang pahlawan. Wanita memiliki kekuatan berupa kelembutan, kesetiaan, cinta, dan kasih sayang yang mampu menjadikannya penjaga spiritual dan sandaran emosi bagi sang pahlawan. Dari sosok seorang wanita inilah pahlawan dapat memperoleh kekuatan, ketenangan, kenyamanan, keamanan, dan keberanian dalam memaksimalkan seluruh kemampuannya untuk memberikan yang terbaik yang terbaik bagi orang-orang di sekelilingnya. Salah satu contoh nyata dari peran penting seorang wanita bagi seorang pahwalan adalah kisah Khadijah yang menguatkan hati suaminya, Nabi Muhammad SAW, yang merasakan ketakutan luar biasa saat menerima wahyu untuk pertama kalinya.</p>
<p>Jika wanita berperan dalam pembentukan jiwa pahlawan, maka untuk mewujudkan kepahlawanannya seorang pahlawan memerlukan sumber daya berupa harta. Harta bagi seorang pahlawan adalah sarana agar kepahlawanannya bisa diwujudkan di dunia materi (nyata) ini. Untuk itu, setiap pahlawan harus memaknai pengorbanan sebagai energy dari ke-<em>zuhud</em>-an. Energi yang akan membuat setiap pahlawan tidak <em>nervous</em> ketika berhadapan dengan harta dunia sehingga harta tidak pernah menemukan jalan menuju hati mereka dan akhirnya harta tersebut mampu untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakatnya.</p>
<p>Satu bagian lagi dari trilogy dunia para pahlawan adalah “tahta”. Ibnu Qoyyim Al- Jauziah pernah berkata, “ <em>Saya telah mempelajari seluruh syahwat manusia. Yang ku temukan kemudian adalah fakta bahwa syahwat yang paling kuat dalam diri manusia adalah syahwat kekuasaan</em>”. Tahta atau kekuasaan, berikut besarnya dorongan maupun godaan dibaliknya, bak dua mata pisau. Satu sisi mampu menjadi sarana untuk pahlawan mewujudkan kepahlawanannya (seperti halnya harta) namun di sisi lain tahta mampu menjerumuskan banyak pahlawan ke dalam lumpur kenistaan dan bisa merusak semua telaga kepahlawanan yang ia ciptakan sendiri. Oleh karena itu setiap pahlawan harus menempatkan tahta sebagai sarana, bukan sebagai tujuan.</p>
<p><strong>Aspek-aspek kepahlawanan</strong></p>
<p><strong> </strong>Trlogi dunia merupakan anugerah sekaligus ujian bagi para pahlawan. Anugerah jika mampu menjadikannya sebagai sarana, bukan tujuan. Menjadikannya dalam genggaman, bukan dalam hati. Apa yang membuat para pahlawan mampu melakukan hal tersebut? Selain keikhlasan dalam berbuat, factor penting lainnya adalah terasahnya aspek-aspek kepahlawanan dalam diri, yang meliputi keberanian, kesabaran, dan pengorbanan.</p>
<p>Setiap pahlawan merupakan seorang pemberani. Pemberani tidaklah sama dengan <em>nekad</em>, menjadi pemberani adalah menjadi seseorang yang sepenuhnya maju menunaikan tugas, baik tindakan maupun perkataan, demi kebenaran kebaikan, atau untuk mencegah suatu keburukan dengan menyadari sepenuhnya kemungkinan resiko yang akan diterima. Keberanian tidak akan optimal tanpa <em>kesabaran</em>. Atau dengan kata lain, tidak ada keberanian yang sempurna tanpa kesabaran. Keduanya saling berkaitan karena kesabaran adalah daya tahan psikologis yang menentukan sejauh apa pahlawan mampu membawa beban idealisme kepahlawanan dan sekuat apa pahlawan mampu survive dalam menghadapi tekanan hidup. Aspek lain yang juga penting dalam kepahlawanan adalah pengorbanan. Pahlawan mendapatkan “gelarnya” karena begitu banyak hal telah ia korbankan atau berikan pada masyarakatnya. Pengorbananlah yang memberi arti dan fungsi kepahlawanan bagi sifat-sifat pertanggungjawaban, keberanian, kesabaran.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Pahlawan sesungguhnya adalah hanya manusia biasa yang berusaha memaksimalkan seluruh kemampuannya untuk memberikan yang terbaik yang terbaik bagi orang-orang di sekelilingnya. Dengan demikian, setiap diri kita punya potensi untuk menjadi seorang pahlawan. Tinggal bagaimana kita mengoptimalkan potensi-potensi tersebut menjadi sarana dalam mewujudkan kepahlawanan serta  tetap menjaga keikhlasan dalam berjuang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.forkomalims.com/book-review/manajemen-diri/mencari-pahlawan-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akhwat Excellent “Membentuk Karakter Muslimah Da’iyah”  (Yuti lg)</title>
		<link>http://www.forkomalims.com/book-review/kapasitas-ruhani/akhwat-excellent-%e2%80%9cmembentuk-karakter-muslimah-da%e2%80%99iyah%e2%80%9d-yuti-lg/</link>
		<comments>http://www.forkomalims.com/book-review/kapasitas-ruhani/akhwat-excellent-%e2%80%9cmembentuk-karakter-muslimah-da%e2%80%99iyah%e2%80%9d-yuti-lg/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Sep 2009 02:28:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>albinadigital</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapasitas Ruhani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://albinadigital.wordpress.com/?p=47</guid>
		<description><![CDATA[Judul Buku: Akhwat Excellent “Membentuk Karakter Muslimah Da’iyah”
Pengarang: Mazaya Hasyima’
Editor: Didik Hermawan
Penerbit: Smart Media, Solo
Tebal: 292 halaman
Dilihat dari sisi tugas dan kewajibannya, wanita muslimah memiliki persamaan dengan kaum laki-laki. Setiap wanita muslimah harus memiliki kemampuan bermasyarakat dan dapat memberikan pengaruh. Agar bisa terwujud, wanita muslimah harus memiliki karakter-karakter tertentu agar bisa menjadi cahaya bagi sekitarnya.
Buku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Judul Buku: <strong>Akhwat Excellent</strong> “Membentuk Karakter Muslimah Da’iyah”</p>
<p>Pengarang: Mazaya Hasyima’</p>
<p>Editor: Didik Hermawan</p>
<p>Penerbit: Smart Media, Solo</p>
<p>Tebal: 292 halaman</p>
<p>Dilihat dari sisi tugas dan kewajibannya, wanita muslimah memiliki persamaan dengan kaum laki-laki. Setiap wanita muslimah harus memiliki kemampuan bermasyarakat dan dapat memberikan pengaruh. Agar bisa terwujud, wanita muslimah harus memiliki karakter-karakter tertentu agar bisa menjadi cahaya bagi sekitarnya.</p>
<p>Buku ini mencoba membahas secara panjang lebar hal-hal yang harus diwujudkan dalam diri seorang muslimah, agar dia menjadi cahaya.</p>
<p>Wanita muslimah harus memiliki etika yang mulia mengikuti akhlak Rasulullah, berlaku jujur, tidak mau menjadi saksi palsu karena perbuatan tersebut diharamkan oleh Allah swt., selalu memberikan nasehat, mengajak berbuat kebaikan, tidak berbohong &#8211; menipu &#8211; berkhianat, menepati janji, menjauhi kemunafikan, bersikap pemalu, serta mandiri dan tidak meminta-minta.</p>
<p>Wanita muslimah juga seharusnya tidak mencampuri urusan orang lain, tidak membongkar aib orang lain, menjauhi perbuatan <em>riya’</em> (pamer), adil dalam keputusan, tidak zhalim kepada sesama, adil terhadap orang yang tidak disukai, tidak bersenang-senang di atas duka orang lain, menghindari prasangka buruk, tidak menggunjing dan provokasi, tidak berkata keji dan mencaci, tidak mengolok-olok orang lain, lemah lembut kepada orang lain dan memiliki sifat kasih sayang.<span id="more-47"></span></p>
<p>Sifat lain yang ahrus dimiliki oleh setiap wanita muslimah adalah memberi manfaat kepada orang lain, menolong orang yang kesulitan ekonomi, dermawan, tidak menyebut-nyebut pemberiannya, besifat santun (peramah), bersifat toleransi dan tidak iri hati, memberikan kemudahan, bukan pendengki, tidak berbuat <em>ujub</em> atau <em>sum’ah</em>, tidak berbicara yang dibuat-buat, berkepribadian yang menyenangkan, bersikap ramah dan disukai orang lain, pandai menjaga rahasia, berwajah ceria dan menyenangkan, bercanda ria dan tidak berwajah muram, membahagiakan hati orang lain, tidak bersikap kaku (fleksibel), dan tidak <em>takabbur</em> (sombong).</p>
<p>Buku ini tidak hanya bermanfaat bagi para wanita muslimah yang ingin menjadi akhwat excellent, tetapi juga bisa menjadi bahan referensi bagi para lelaki muslim yang ingin menyeleksi calon istrinya nanti.. ^^,</p>
<p>Selamat membaca…!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.forkomalims.com/book-review/kapasitas-ruhani/akhwat-excellent-%e2%80%9cmembentuk-karakter-muslimah-da%e2%80%99iyah%e2%80%9d-yuti-lg/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kekuatan Shalat Subuh        (by Teh Wardah)</title>
		<link>http://www.forkomalims.com/book-review/kapasitas-ruhani/kekuatan-shalat-subuh-by-teh-wardah/</link>
		<comments>http://www.forkomalims.com/book-review/kapasitas-ruhani/kekuatan-shalat-subuh-by-teh-wardah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Sep 2009 02:25:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>albinadigital</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapasitas Ruhani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://albinadigital.wordpress.com/?p=45</guid>
		<description><![CDATA[Resume buku oleh Wardah Imaniyyah (FDC)
Judul buku: Kekuatan Shalat Shubuh
Pengarang: Syaikh Nida Abu Ahmad
Penerbit: An Nadwah
Resume:

Shalat Shubuh merupakan ujian sulit

Tujuan Allah memberikan ujian adalah:

Memaparkan hujjah agar tidak ada seorang pun yang merasa dizhalimi atau dikurangi haknya oleh Allah pada hari kiamat.
Membisahkan sesuatu yang baik dengan yang buruk,
Membedakan anatara orang-orang jujur dengan para pembohong.
Mengetahui tingkat keimanan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Resume buku oleh Wardah Imaniyyah (FDC)</p>
<p>Judul buku: Kekuatan Shalat Shubuh</p>
<p>Pengarang: Syaikh Nida Abu Ahmad</p>
<p>Penerbit: An Nadwah</p>
<p>Resume:</p>
<ol>
<li>Shalat Shubuh merupakan ujian sulit</li>
</ol>
<p>Tujuan Allah memberikan ujian adalah:</p>
<ol>
<li>Memaparkan hujjah agar tidak ada seorang pun yang merasa dizhalimi atau dikurangi haknya oleh Allah pada hari kiamat.</li>
<li>Membisahkan sesuatu yang baik dengan yang buruk,</li>
<li>Membedakan anatara orang-orang jujur dengan para pembohong.</li>
<li>Mengetahui tingkat keimanan dan kejujuran cinta orang beriman.</li>
</ol>
<p>Ciri khas ujian:</p>
<ol>
<li>Sulit</li>
<li>Tidak berupa hal-hal yang mustahil</li>
</ol>
<p>Shalat tidak boleh dikerjakan semau kita. Shalat harus didirikan pada waktu yang diinginkan Allah. Allah. Allah memuji orang-orang yang menjaga waktu-waktu shalat dalam firmanNya di QS. Al Ma’arij: 34 karena Shalat pada waktunya merupakan amal perbuatan paling utama di sisi Allah.</p>
<p>Tingkatan orang yang menyia-nyiakan shalat dan ancamannya:</p>
<ol>
<li>Kelompok yang tidak menerima shalat sama sekali, diancam dengan Saqar (QS. Al Muddatstsir: 42-43)</li>
<li>Kelompok yang menerima shalat tapi tidak menunaikannya, diancam degan Ghayya (Jahannam) (QS. Maryam: 59)</li>
<li>Kelompok yang tidak peduli dengan shalat. Baginya, terserah apakah ia menunaikannya diawal waktu atau menundanya. Diancam dengan Wail (kecelakaan) (QS. Al Ma’un:4-5)</li>
</ol>
<ol>
<li>Keutamaan Shalat Shubuh<span id="more-45"></span>
<ol>
<li>Shalat subuh merupakan shalat yang paling utama</li>
<li>Allah membanggakan dihadapan para malaikat orang yang meninggalkan tempat tidurnya dan berdiri untuk shalat.</li>
<li>Barangsiapa keluar untuk menunaikan shalat shubuh berjama’ah, maka Allah memberinya cahaya pada hari kiamat</li>
<li>Dua rakaat shalat sunnah shubuh lebih baik dari dunia dan seisinya.</li>
<li>Jika anda mengerjakan shalat shubuh berjama’ah, maka pahala shalat malam dicatat untuk anda.</li>
<li>Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh dan mendoakan orang yang mengerjakan shalat shubuh berjama’ah</li>
<li>Mendapatkan pahala dzikir khusus setelah shalat shubuh</li>
<li>Usai shalat shubuh anda dicatat sebagai salah satu dari orang-orang yang berbakti dan tamu Allah.</li>
<li>Setelah shalat shubuh, anda berada dalam penjagaan dan perlindungan Allah.</li>
<li>Shalat shubuh member kesempatan besar kepada Anda untuk meraih pahala besar.</li>
<li>Barangsiapa mengerjakan shalta shubuh berjama’ah, maka ia dijanjikan Allah masuk surga.</li>
</ol>
</li>
</ol>
<ol>
<li>Hukuman Bagi Orang yang Meninggalkan Shalat Shubuh</li>
<li>Barangsiapa tidak mengerjakan shalat shubuh, maka ia merasa malas sepanjang hari, dadanya terasa sesak, dan jiwanya tidak sreg..</li>
<li>Barangsiapa tidak mengerjakan shalat shubuh, maka kemunafikan dimasukkan ke dalam hatinya.</li>
<li>Barangsiapa tidak mengerjakan shalat shubuh dengan sengaja, maka ia tidak mendapatkan jaminan Allah dan RasulNya.</li>
</ol>
<p><strong>Waktu Shubuh adalah waktu perubahan, jihad dan pengokohan..</strong></p>
<ol>
<li>Kiat Shalat Shubuh Berjama’ah
<ol>
<li>Mengingat semua kabar gembira bagi orang yang mengerjakan shalat shubuh berjama’ah secara konsisten serta mengingat semua peringatan bagi yang meninggalkannya.</li>
<li>Berkeinginan kuat untuk bangun</li>
<li>Menjauhi maksiat dan dosa</li>
<li>Menjauhi apa saja yang melalaikan dan mengeraskan hati seperti makanan, candaan.</li>
<li>Jangan makan banyak sebelum tidur</li>
<li>Mengikuti petunjuk Nabi SAW dalam masalah tidur:</li>
<li>Dzikir kepada Allah langsung setelah bangun tidur</li>
<li>Menyalakan lampu setelah bangun dari tidur</li>
<li>Menggunakan sarana-sarana yang membantu bangun seperti alarm, istri (keluarga) dan teman yang shalih</li>
<li>Tidur Siang</li>
<li>Berdo’a</li>
</ol>
</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.forkomalims.com/book-review/kapasitas-ruhani/kekuatan-shalat-subuh-by-teh-wardah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seri Manajemen Diri : Mengatasi Minder (dari Arum NF)</title>
		<link>http://www.forkomalims.com/book-review/manajemen-diri/seri-manajemen-diri-mengatasi-minder-dari-arum-nf/</link>
		<comments>http://www.forkomalims.com/book-review/manajemen-diri/seri-manajemen-diri-mengatasi-minder-dari-arum-nf/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Jun 2009 16:57:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>albinadigital</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manajemen Diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://albinadigital.wordpress.com/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[(Abdullah Gymnastiar)

Kesombongan adalah salah satu penyakit hati, yaitu perasaan ketika diri merasa “lebih” dari orang lain. Karenanya, seseorang bisa menjadi dibenci orang lain. Namun, merasa diri lebih rendah dari orang lain (minder) juga tidaklah baik. Orang yang minder merasa hidupnya menjadi terbebani bahkan dapat mengakibatkan bunuh diri. Berbeda halnya bila kita merasa rendah diri di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><strong><span lang="IN">(Abdullah Gymnastiar)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN">Kesombongan adalah salah satu penyakit hati, yaitu perasaan ketika diri merasa “lebih” dari orang lain. Karenanya, seseorang bisa menjadi dibenci orang lain. Namun, merasa diri lebih rendah dari orang lain (minder) juga tidaklah baik. Orang yang minder merasa hidupnya menjadi terbebani bahkan dapat mengakibatkan bunuh diri. Berbeda halnya bila kita merasa rendah diri di hadapan Allah SWT. Sifat ini akan menjadi sangat berharga. Minder dapat diakibatkan oleh beberapa faktor, diantaranya, kondisi fisik, keturunan, status sosial, pekerjaan, dan pendidikan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN">Merasa fisik tak sempurna adalah hal yang sangat manusiawi karena selain kelebihan, Allah juga memberikan kekurangan kepada manusia. Kekurangan ini adalah karunia Allah agar manusia saling melengkapi. Kekurangan seseorang bisa menjadi ladang amal bagi orang lain. Misalnya, orang yang bertubuh tinggi dengan senang hati mau mengambilkan buku yang tidak terjangkau oleh orang yang bertubuh pendek. Yang tidak wajar adalah ketika kita menyesali kekurangan tersebut. Allah telah mengingatkan, “<em>Sesugguhnya Kami telah menciptakan manusia dangan sebaik-baik bentuk. Kemudian Kami kembalikan ia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh; bagi mereka pahala yang tak putus-putusnya.”(At-Tin:4-6). </em>Jadi, kita jadikan kekurangan kita sebagai jalan untuk mengerjakan amal-amal shaleh, menuai pahala yang tak putus-putusnya dari Allah SWT. Misalnya, orang yang buta akan terjaga pandangannya. Kebeningan hati dan kejernihan pikiran akan dimudahkan melalui terjaganya pandangan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN">Tidak ada alasan untuk merasa rendah diri akibat keadaan orang tua yang memiliki kekurangan, baik dari segi pendidikan, harta, ataupun akhlak mereka, karena orangtualah yang telah melahirkan dan mendidik kita. Ayah Nabi Ibrahim as. adalah seorang pembuat berhala, namun hal itu tidak pernah membuat Ibrahim putus asa, beliau semakin gigih mencari kebenaran sampai rela dipanggang dalam api oleh Raja Namrud. Hingga beliau menempati kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT. Jadi, sebagai anak, tugas kita untuk membimbing dan menolong orangtua.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN">Minder karena harta sebetulnya wajar karena sudah fitrah manusia untuk cinta pada harta. Namun, menjadi tidak benar jika kita larut di dalamnya. Bukan harta yang menyebabkan seseorang menjadi mulia. Kekayaan tidak menjamin kehidupan yang aman dan sentosa. Kemuliaan itu sesungguhnya didapat ketika kita bertakwa. Rasulullah bersabda, <em>“Sesungguhnya Allah tidak memandang harta dan rupamu. Namun, Allah Melihat kepada hatimu.”</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN">Sebenarnya, tidak ada pekerjaan yang hina di mata Allah selama tidak menentang syariat. Rasulullah bersabda, <em>“Sungguh, pencari kayu bakar itu lebih baik daripada pengemis.”.</em> Jadi, kita akan tetap mulia selama bekerja untuk kebaikan. Sebagai tukang sapu, kita dapat mulia karena tempat yang kita sapu menjadi bersih. Rasulullah pun bersabda, <em>“Kebersihan itu adalah sebagian tanda dari iman.”</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN">“Ilmu”, pada hakikatnya adalah sesuatu yang bisa membuat kita menjadi lebih dekat dengan Alah SWT. Ilmu yang sebenarnya ialah yang sanggup mengantarkan kita mengenal keagungan-Nya dan meraih cinta-Nya, bukan sebatas mengantarkan kita untuk meraih gelar. Ilmu yang sedikit akan menjadi sangat berarti bila digunakan untuk kebaikan yang nyaris tanpa batas dan bila di baliknya tersimpan akhlak mulia. Alkisah, seorang pengusaha asal Jepang begitu dicintai dan dihormati para karyawannya. Bukan karena gelar yang beliau sandang karena memang hanya lulusan SD, tapi karena akhlaknya yang terpuji dan nyaris tanpa cela sehingga perusahaannya menjadi besar dan amat disegani. Artinya, akhlak terpujilah yang menempatkan kita pada tempat yang tinggi di hati manusia, jauh melampaui ketinggian tingkat sekolah yang pernah kita tekuni.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN">Dari uraian di atas, dapat diambil hikmah bahwa tidak ada alasan kita untuk minder. Sebaliknya, kita harus percaya diri! Sebab, tidaklah Allah melahirkan seseorang ke dunia melainkan telah Ia bekali dengan segala kelebihan yang dapat menjadi jalan baginya untuk mencapai kemuliaan. <em>“Janganlah kamu bersikap lemah, dan jangan (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman”</em>(Q.S. Ali Imran[3]: 139). <em>Wallahu’alam bishshawab.</em></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.forkomalims.com/book-review/manajemen-diri/seri-manajemen-diri-mengatasi-minder-dari-arum-nf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Isti’ab  oleh A Andi</title>
		<link>http://www.forkomalims.com/book-review/kapasitas-ruhani/isti%e2%80%99ab-oleh-a-andi/</link>
		<comments>http://www.forkomalims.com/book-review/kapasitas-ruhani/isti%e2%80%99ab-oleh-a-andi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 May 2009 12:25:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>albinadigital</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapasitas Ruhani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://albinadigital.wordpress.com/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[Maraji’ :
Judul Asli                : Al-Isti’ab fi Hayatid-Da’wah wad-Da’iyah
Judul Terjemahan : Isti’ab. Meningkatkan Kapasitas Rekrutmen Da’wah
Penulis                    : Fathi Yakan
Dirangkum oleh : Andi Sasmita
Isti’ab (daya tampung) adalah kemampuan seorang da’i untuk menarik objek da’wah (mad’u) dan merekrut mereka dengan segala perbedaan intelektual, kejiwaan, status sosial dan lain sebagainya.
Da’i yang sukses adalah da’i yang mampu masuk dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Maraji’ :</p>
<p>Judul Asli                : <em>Al-Isti’ab fi Hayatid-Da’wah wad-Da’iyah</em></p>
<p>Judul Terjemahan : Isti’ab. Meningkatkan Kapasitas Rekrutmen Da’wah</p>
<p>Penulis                    : Fathi Yakan</p>
<p>Dirangkum oleh : Andi Sasmita</p>
<p>Isti’ab (daya tampung) adalah kemampuan seorang da’i untuk menarik objek da’wah (mad’u) dan merekrut mereka dengan segala perbedaan intelektual, kejiwaan, status sosial dan lain sebagainya.</p>
<p>Da’i yang sukses adalah da’i yang mampu masuk dan dapat mempengaruhi setiap manusia, dengan pemikiran dan da’wahnya sekalipun kecenderungan, karakter, dan tingkatan mad’u beragam. Pada dasarnya kemampuan untuk melakukan isti’ab merupakan keahlian yang paling penting dalam kepribadian seorang da’i. Tanpa isti’ab seseorang tidak akan pernah menjadi da’i karena selain kita harus sholeh secara pribadi juga harus sholeh secara sosial.</p>
<p>Tidak dipungkiri seorang da’i memiliki kemampuan yang berbeda dalam pelaksanaan isti’ab. Meski demikian seharusnya seorang da’i dituntut untuk memiliki batas minimal kemampuan isti’ab, terlebih lagi dalam suatu <em>tanzhim </em>(organisasi/jamaah). Jika standar minimal dalam isti’ab ini tidak deipenihi, maka seorang da’i tidak hanya sekadar tidak produktif tetapi juga bisa menjadi penghalang dalam proses produksi dan menyebabkan kemudharatan bagi Islam dan pergerakan Islam.</p>
<p>Berapa banyak orang yang hidup dalam nuansa da’wah dan memahami prinsip-prinsipnya tetapi tidak mau mentransfer nuansa-nuansa dan prinsip-prinsip itu walaupun hanya selangkah di luar lingkungannya.</p>
<p>Tingkatan-tingkatan kemampuan dalam isti’ab diisyaratkan dalam sebuah hadits:</p>
<p>“<em>Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang dengannya Allah mengutusku adalah bagaikan hujan yang turun ke bumi. Maka ada bagian bumi yang baik, ia menerima air hujan itu dengan baik lalu menumbuhkan tanaman dan rerumputan yang banyak. Ada juga bagian bumi yang menahan air, lalu Allah memberikan manfaat kepada manusia dengan air yang disimpannya, sehingga mereka bisa minum dan menyirami tanaman dari air tersebut. Bagian lainnya adalah padang tandus, ia sama sekali tidak bisa menyimpan air dan juga tidak menumbuhkan apapun. Demikian itu adalah perumpamaan orang yang diberi kepahaman dalam agama, lalu ia dapat memanfaatkan apa yang aku bawa itu, hingga ia senantiasa belajar dan mengatakan apa yang ia pahami. Dan perumpamaan orang yang sama sekali tidak ambil peduli dan tidak mau menerima petunjuk Allah yang aku sampaikan</em>” (HR. Bukhari Muslim)</p>
<p><strong>Isti’ab Eksternal</strong></p>
<p>Yang dimaksud isti’ab eksternal adalah penguasaan terhadap orang-orang yang ebrada di luar da’wah, di luar pergerakan, dan di luar organisasi. Menyebarkan da’wah di tengah masyarakat hingga mereka percaya dan terpengaruh, lalu bergabung dan memperjuangkan da’wah adalah sebuah usaha yang susah dan berat, membutuhkan kemampuan dan berbagai tuntutan yang harus dipenuhi. Siapa pun yang memiliki syarat ini, atau bahkan lebih dari itu maka ia akan menjadi da’i yang sukses. Beberapa ketentuan yang harus dipenuhi seorang da’i dalam proses isti’ab adalah.</p>
<ol>
<li>Kepahaman tentang agama</li>
</ol>
<p>Untuk menjadi da’i tentunya seseorang harus memiliki pemahaman yang memadai tentang Islam. Setidaknya ia mampu membedakan antara halal dan haram, kebaikan dan kejahatan. Juga mengetahui berbagai hal yang wajib dan sunnah, mengetahui masalah aqidah dan hukum.</p>
<p>9.  (apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: &#8220;Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?&#8221; Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (Az-Zumar :9).</p>
<p>6.  Dan orang-orang yang diberi ilmu (ahli Kitab) berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu Itulah yang benar dan menunjuki (manusia) kepada jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji (Saba’ : 6)</p>
<p>18.  Kemudian kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), Maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak Mengetahui (Al-Jatsiyah : 18)</p>
<p>2. Teladan      yang baik<span id="more-34"></span></p>
<p>Masyarakat tentunya akan merespon da’wah ketika ada keteladanan. Tidak mungkin seorang mengajak untuk tawadhu’ namun ia sendiri congkak, mengajak itsar (mengutmakan orang lain) namun ia sendiri egois, mengajak untuk jujur namun ia sendiri pembohong, mengajak untuk amanah namun ia sendiri suka berkhianat. Karena itu keistiqamahan seorang da’i adalah rahasia keberhasilan dalam da’wah. Al-Qur’an juga telah menyampaikan ancaman keras bagi orang-orang yang ucapannya tidak sesuai dengan perbuatannya.</p>
<p>Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?</p>
<p>Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.</p>
<p>3.Sabar</p>
<p>Untuk merekrut dan mempengaruhi masyarakat dibutuhkan kesabaran, bukan kejengkelan dan kepicikan. Hal ini dikarenakan manusia memiliki kondisi kejiwaan yang bermacam-macam, memiliki kekurangan yang beragam, memiliki tabiat yang berbeda-beda, dan memiliki kepentingan yang berlainan.</p>
<p>Ketentuan-ketentuan lainnya adalah:</p>
<ol>
<li>Lemah      lembut</li>
<li>Memberi      kemudahan</li>
<li>Tawadhu’</li>
<li>Murah      senyum dan perkataan yang baik</li>
<li>Pemurah dan dermawan</li>
<li>Membantu orang lain</li>
</ol>
<p><strong>Isti’ab Internal</strong></p>
<p>Isti’ab dakhili atau isti’ab internal adalah kemampuan dan kehlian untuk menampung objek da’wah yang telah berada di tengah-tengah shaf da’wah. Baik oleh para pemimpin maupun para anggotanya.</p>
<p>Jika isti’ab khariji (isti’ab eksternal) bertujuan untuk menarik objek da’wah ke dalam Islam, da’wah dan pergerakan, maka isti’ab dakhili bertujuan untuk mendayagunakan potensi mereka dalam melaksanakan tugas-tugas da’wah dan pergerakan. Dalam proses pembentukan ini  ada beberapa tahapan yang harus dilalui yaitu:</p>
<ul>
<li>isti’ab ‘aqidi dan tarbawi</li>
</ul>
<p>Dalam tahapan ini gerakan harus melakukan proses formulasi terhadap para kader yang bergabung dengannya. Membersihkan mereka dari polutan masa lalu, baik menyangkut pemikiran ataupun tindakan, dan mencuci otak mereka dari karat-karat yang menempel padanya berupa berbagai hal yang tidak islami.</p>
<p>Meluruskan aqidah mereka, meluruskan perilaku dan akhlak mereka, mengarahkan keinginan dan kecenderungan mereka, menentukan dan menjelaskan arah sasaran dan tujuan mereka. Tahapan ini adalah tahapan paling penting karena merupakan dasar bagi segenap amal dan bangunan. Jika tahapan ini diremehkan maka bahaya besar akan menimpa individu maupun jama’ah.</p>
<p>Orang yang besar tanpa tarbiyah, orang yang meningkat tanpa komitmen, dan orang-orang yang mengemban berbagai tanggung jawab tanpa keahlian dan kelayakan akan menjadi beban berat bagi da’wah dan seringkali menjadi bencana bagi pergerakan.</p>
<p>Dalam tahapan ini, pemimpin bertanggung jawab paling besar untuk menyiapkan sarana dan berbagai manhaj yang diperlukan dalam isti’ab aqidah ini. Bahkan ia dituntut untuk selalu mengawasi sepenuhnya proses tersebut.</p>
<ul>
<li>isti’ab haraki</li>
</ul>
<p>Kemampuan sebuah pergerakan dalam menampung anggotanya, pendukungnya, dan para simpatisannya. Untuk bisa menampung para anggotanya gerakan harus memenuhi beberapa syarat berikut :</p>
<ol>
<li>Proses tarbiyah yang matang, karena keikutsertaan      seseorang dalam sebuah pergerakan harus diawali dengan tarbiyah. Jika      tidak maka kegagalan yang akan didapat.</li>
<li>Tersedianya berbagai potensi dan kapabilitas serta      faktor pendukung lainnya dalam sebuah pergerakan untuk bisa menampung      anggotanya antara lain manajerial yang handal, konsep yang jelas dalam      pendidikan, pemikiran, politik, dsb. Bila persyaratan ini telah terpenuhi      maka gerakan tersebut akan mampu melakukan proses isti’ab internal dan      eksternal dengan sukses.</li>
<li>Memahami semua anggotanya dengan benar, mengetahui      potensi yang dimiliki, kecenderungan mereka, sisi positif dan negatifnya, dan      hal-hal lainnya. Dengan mengetahuin hal tersebut akan sangat membantu      untuk menentukan tugas dan tanggung jawab masing-masing individu dan      menempatkannya pada posisi yang tepat sehingga akan membuahkan hasil yang      memuaskan.</li>
<li>Mengerahkan seluruh anggota dan bukan sebagian saja      atau hanya orang-orang berprestasi saja. Pemanfaatan semua personel,      meskipun dalam masalah yang paling sederhana, bagaimanapun akan      melipatgandakan hasil disamping akan akan menghindarkan pergerakan dari      fitnah yang ditimbulkan oleh para “penganggur”.</li>
<li>Penugasan anggota jama’ah secara bersama-sama dan      bukan secara individual. Diantara penyakit yang paling berbahaya dalam      sebuah pergerakan adalah kecenderungan individualistis dalam melaksanakan      tugas yang seharusnya dikerjakan bersama tim.</li>
</ol>
<p>Ada beberapa masalah penting yang terkait dengan pergerakan yang harus dikuasai oleh para da’i antara lain:</p>
<ol>
<li>Pemahaman yang benar dan sempurna tentang sasaran dan      sarana yang digunakan</li>
<li>Memahami      tanzhim dan tabiatnya dengan benar</li>
</ol>
<p>Ketidakjelasan dalam tanzhim dapat menyebabkan ketidakjelasan terhadap hak dan kewajiban. Di samping itu juga dapat menyebabkan tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan prinsip dan aturan.</p>
<ol>
<li>Pemahaman      yang benar dan menyeluruh terhadap tabiat teman dan lawan berikut      konsekuensinya</li>
<li>Pemahaman      yang baik tentang berbagai aspek, tabi’at dan kebutuhan amal</li>
<li>Menjauhi      fenomena istiknaf</li>
</ol>
<p>Istiknaf adalah keengganan untuk bergabung dalam masyarakat, instansi, atau berbagai organisasi yang ada.</p>
<p>Da’wah dan juga para da’i tidak mungkin mampu mengenal dan menguasai objek da’wah jika memiliki sikap tersebut. Karenanya fenomena yang belakanagn ini terus berkembang tersebut harus segera dihindari, bahkan semampu mungkin untuk meluruskan da’i lain yang bersikap seperti itu.</p>
<p>Tidak mustahil musuh-musuh islam malah memanfaatkan masyarakat, oleh karena itu fenomena istiknaf perlu diluruskan. Keengganan para da’i untuk terjun dalam kancah politik dengan beranggapan politik itu kotor dan dapat mengotori orang yang berada di dalamnya atau alasan-alasan lainnya akhirnya memberikan kesempatan luas bagi musuh-musuh Islam menguasai dan menjadi penentu kebijakan di negeri-negeri Muslim.</p>
<p>Ada juga da’i yang enggan menjadi pegawai negeri, pegawai bea cukai, pengacara, hakim, militer, dsb dengan alasan bahwa sistem yang ada di dalamnya tidak islami. Sikap ini jelas akan menjadikan berbagai instansi pemerintahan sebagai sarang musuh-musuh islam.</p>
<p>Keengganan untuk berbaur dengan masyarakat dengan alasan mereka jauh dari Islam dan berakhlak tidak terpuji justru akan menjadikan masalah semakin kompleks dan jurang pemisah antara Islam dan masyarakat semakin jauh.</p>
<p>Lalu apa nilai da’wah dan para da’i jika tidak mau melakukan proses perubahan di dalam masayarakat? Apakah mereka mengira bahwa perubahan bisa dilakukan dari luar masayarakat? Tanpa masuk ke dalamnya dan bergaul dengan anggota masyarakat yang ada?</p>
<p align="center">“<em>Dan jika kamu berpaling niscaya dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu</em>” (Q.S. Muhammad : 38)</p>
<p>Wallahu a’lam bish-shawab</p>
<p>Walhamdulillahi wabbil ‘alamin</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.forkomalims.com/book-review/kapasitas-ruhani/isti%e2%80%99ab-oleh-a-andi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Komitmen Da&#039;i Sejati ( Teh Ridha..)</title>
		<link>http://www.forkomalims.com/book-review/kapasitas-ruhani/komitmen-dai-sejati-teh-ridha/</link>
		<comments>http://www.forkomalims.com/book-review/kapasitas-ruhani/komitmen-dai-sejati-teh-ridha/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 May 2009 09:35:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>albinadigital</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapasitas Ruhani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://albinadigital.wordpress.com/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Muhammad Abduh
Penerbit: Al-I’tishom
Tebal: 232 halaman
Buku setebal 232 halaman ini memberikan kita panduan, tips, sekaligus bagaimana memahami masalah-masalah yang klasik selalu terjadi pada seorang aktivis. Buku ini wajib dibaca bagi seseorang yang mengaku sebagai Aktivis Dakwah Sekolah atau Dakwah kampus. Mengapa? Karena kesungguhan dakwah seseorang itu akan diuji pertama melalui komitmennya (iltizam). “Keputusan seseorang untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis: Muhammad Abduh</p>
<p>Penerbit: Al-I’tishom</p>
<p>Tebal: 232 halaman</p>
<p>Buku setebal 232 halaman ini memberikan kita panduan, tips, sekaligus bagaimana memahami masalah-masalah yang klasik selalu terjadi pada seorang aktivis. Buku ini wajib dibaca bagi seseorang yang mengaku sebagai Aktivis Dakwah Sekolah atau Dakwah kampus. Mengapa? Karena kesungguhan dakwah seseorang itu akan diuji pertama melalui komitmennya (iltizam). “Keputusan seseorang untuk bergabung dalam gerakan dakwah, menuntut orang itu untuk senantiasa meluruskan dan memperbarui komitmennya supaya tidak ada lagi awan keraguan yang menyelimuti dirinya.” Kalau tidak memiliki dasar yang kuat, panjang dan berlikunya dakwah ini akan dapat dengan mudahnya membuat kita goyah di tengah jalan. Bahkan, bukan tidak mungkinakan membuat kita lpa dengan tujuan kita sendiri untuk berada di dalamnya. Bagaimana bisa kita hanya menjalankan kewajiban dakwah ini bila kita tidak senang berada di dalamnya?</p>
<p>Buku ini terdiri dari empat bab. Bab pertama berjudul “apakah bentuk komitmen saya terhadap dakwah?’ Lebih lanjutnya adalah sebuah pengantar untuk memberikan pemahaman singkat mengenaikondisi masyarakat di Mesir di zaman Hasan Al Banna masih hidup. Saat itu, kondisi Mesir msih cukup rawan karena gencarya pengaruh misionaris pada masyarakat yang sebagian besar adalah muslim. Selain itu, pengaruh Barat pada Mesir dianggap memasung kemerdekan Mesir karena mempengaruhi pemerintahan yang berkuasa agar mau berpihak pada mereka. Akibatnya adalah munculnya pemerintahan yang korup, lalim, dan menjadi boneka Negara-negara Barat.<span id="more-31"></span></p>
<p>Berangkat dari kondisi itu, Hasan Al Banna merasa berkewajiban untuk berda’wah menyadarkan rakyat Mesir akan keterpurukan kondisi mereka dan berjuang membebaskan mesir dari cengkraman kaum Barat dalam sebuah pergerakan bernama Ikhwanul Muslimin. Titik landasannya adalah dengan memahami aqidah yang benar yang menjadi landasan da’wah serta selalu berdasarkan Al Qur’an dan as Sunnah. Ia mengajak masyarakat mesir untuk menyadari bahwa Isam tidak sekadar menjalankan hubungan vertikel semata. Namun, sebuah system integral yang menyatu dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, membebaskan Mesir daripengaruh asing dan membentuk pemerintahan yang alami di Mesir adalah agenda terpenting saat itu.</p>
<p>Dengan memahami sejarah pergerakan ini, mudah-mudahan kita tidak sekadar jadi aktivis yang ikut-ikutan.Namun, benar-benar paham dengan perjungan yang dulu telah dimulai oleh para pendahulu-pendahulu kita, sehingga bila kita sekarangmenemukan hambatan-hambatan, kita akan lebih diingatkan betapa hambatana kita itu sangat tidak serupa.</p>
<p>Bab kedua berjudul “Sarana dan Persiapan”. Dalam ba ini dibahas mengenai bekal apa saja yang harus dipersiapkan bagi seorang dai dalam menajlankan aktivitas hariannya. Hal ini meliputi iman yang mendalam, kemauan kuat, sungguh-sunguh dan optimis. Selain itu, ada beberapa sikap yang juga dirasa cukup penting untuk dimiliki seorang da’I, yakni menjadi teladan bagi orang lain, lembut dan bersahaja sebagai kiat untuk memengaruhi orang lain, mampu menjaga rahasia, teguh dalam menepati janji, sanggup berkorban, memiliki kemampuan manajemen waktu, dan hidp teratur. Jelas terlihat bahwa ‘sarana dan persiapan’ yang dibahas dalam buku ini adalah modal bagi seorang da’I dalam menjalankan kesehariannya. Dengan melakukan ‘sarana dan persiapan’ ini, diharapkan da’wah akan semakin berkembang luas dan diterima masyarakat.</p>
<p>Bab ketiga berjudul ‘Kewajiban-kewajiban Praktis’. Singkatnya, bab ketiga ini adalah sebuah gambaran bagaimana menilai efektivitas hidup seorang da’i. Ia seharusnya bias menempatkan dirinya dalam pengawasan Allah (<em>muroqobatullah</em>). Oleh karena itu, aktivis da’wah yang dapat melakukan kewajiban-kewajiban praktis berarti telah mampu mengatasi godaan dunia, kemauan, dan dorongan jiwa yang lemah, sekaligus mampu menampilkan keberadabannya.</p>
<p>Dalam bab ini dijelaska mengenai kewajiban para pembaca untuk lebih proktif dalam da’wah. Artinya seorang da’I harus kreatif dan inovatif ketika melihat sebuah fenomena. Ia tidak menjadi ‘aktivis mandul’ yang hanya menunggu perintah dari qiyadahnya. Selain itu, hal yang juga cukup penting untuk dibahas dalam bab ini adalah mengenai kesiapan menunaikan kewajiban financial untuk da’wah, emangmalkan masalah-masalah fiqih yag ditetapkan oleh jamaah, memegang teguh sarana-sarana tarbiyah yang ditentukan oleh jamaah, percaya, hormat, dan ikhlas kepada qiyadah dalam setiap keputusan dan tindakan, melaksanakan kewajiban ukhuwah, aktif dan selalu mengikuti kegiatan-kegiatan umum yang diadakan oleh jamaah, serta mengikuti perkembangan berita jama’ah.</p>
<p>Bab keempat alias bab terakhir berjudul “Bahaya dan Rintangan’. Dalam bab ini dibahas mengenai hal-hal yang harus dihindari dan dapat memicu perselisihan dan perpecahan, bagaimana memberantas kantong-kantong semapaln (<em>dhirarisme</em>) adalah sebutan bagi mereka yang fanatic dengan pendapatnya sendiri dan tidak memperhatikan pendapat qiyadah, bagimana menghadapi orang ynhg ingin menang sendiri, dan suka berdebat dan saling membantah. Kemudian dibahas pula mengenai bagaimana menghadapi maalah kepentingan prbadi di atas kepentingan bersama, sering izin untuk tdak mengahadapi liqa, berambisi ingin menjadi pemimpin dan terlalu percaya diri, dan tidk memiliki pandangna yang jelas. Intinya, bab ini membahas mengenai ancaman-ancaman yang timbul dari intrapersonal seorang da’I itu sendiri. Jangan sampai mengaku da’I tetapi menunjukkan perilaku yang dapat menimbulkan dendam dan kebencian.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.forkomalims.com/book-review/kapasitas-ruhani/komitmen-dai-sejati-teh-ridha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Manajemen Waktu (Yuti Arlan&#8230;ininih datanya lengkap&#8230;baguus)</title>
		<link>http://www.forkomalims.com/book-review/manajemen-diri/manajemen-waktu-yuti-arlanininih-datanya-lengkapbaguus/</link>
		<comments>http://www.forkomalims.com/book-review/manajemen-diri/manajemen-waktu-yuti-arlanininih-datanya-lengkapbaguus/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 May 2009 15:11:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>albinadigital</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manajemen Diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://albinadigital.wordpress.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[Judul Buku: Manajemen Waktu, Seri Manajemen Islam, Panduan Sukses Diri dan Organisasi Buku-3
Pengarang: M. Ahmad Abdul Jawwad
Penerjemah: khozin Abu Faqih
Penerbit: PT Syaamil Cipta Media, Bandung
Tebal: 97 halaman + xvi
Persoalan waktu serta tingkat urgensinya dalam realitas kita, awalnya kecil dan terbatas. Akan tetapi, ia berkembang dan bergerak cepat, hingga menjadi hal nyata yang tidak mungkin kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Judul Buku: Manajemen Waktu, Seri Manajemen Islam, Panduan Sukses Diri dan Organisasi Buku-3</p>
<p>Pengarang: M. Ahmad Abdul Jawwad</p>
<p>Penerjemah: khozin Abu Faqih</p>
<p>Penerbit: PT Syaamil Cipta Media, Bandung</p>
<p>Tebal: 97 halaman + xvi</p>
<p>Persoalan waktu serta tingkat urgensinya dalam realitas kita, awalnya kecil dan terbatas. Akan tetapi, ia berkembang dan bergerak cepat, hingga menjadi hal nyata yang tidak mungkin kita hindari atau kita abaikan. Untuk itu, setiap manusia dituntut untuk dapat mengelola waktu dengan baik.</p>
<p>Untuk membantu terwujudnya pribadi seperti itu, buku ini memaparkan kaidah-kaidah aplikatif setahap demi setahap sampai tingkat yang paling mahir dan apik dalam mengelola waktu.</p>
<p>Langkah pertama adalah menganalisis sikap kita terhadap manajemen waktu dan mengenali sejauh mana kemampuan kita dalam mengelola waktu. Langkah ini sangat penting dan mendasar sebab target buku ini adalah tercapainya efisiensi waktu.</p>
<p>Langkah kedua adalah menghayati urgensi waktu dan sejauh mana kebutuhan kita pada manajemen waktu serta optimalisasi hidup kita. Waktu adalah modal dasar. Pengelolaan waktu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari manajemen diri. Apabila kita tidak mampu mengelolanya, maka kita tidak akan mampu mengelola sesuatu apapun. Seorang muslim tidak patut menunggu dimotivasi oleh orang lain untuk mengelola waktunya karena ini memang kewajiban masing-masing muslim untuk menyadari urgensi waktu yang dimiliki agar berjuang secara kontinu dan terarah.<span id="more-29"></span></p>
<p>Langkah ketiga adalah belajar menyusun skala prioritas, komitmen pada kewajiban waktu, dan mengatasi sikap menunda-nunda pekerjaan.</p>
<p>Langkah keempat adalah mengenali ha-hal yang kita butuhkan dalam mengelola waktu secara efektif dan menjadikannya sebagai pusat perhatian serta titik tolak dalam memulai perubahan.</p>
<p>Langkah kelima adalah mengenali hal-hal yang dapat mengganggu manajemen waktu dan melemahkan kemampuan sehingga kita dapat menghindarinya.</p>
<p>Langkah keenam adalah mengetahui dan meneladani tokoh-tokoh yang berhasil dalam mengelola waktu.</p>
<p>Langkah ketujuh adalah mengenali cara mengatasi hal-hal yang dapat menyia-nyiakan waktu. Biasanya hal-hal tersebut muncul dari dua sunber, yaitu lingkungan sekitar dan diri sendiri. Hal-hal ini dapat mengakibatkan tidak terwujudnya target-target yang diinginkan pada batas waktu yang telah ditentukan sebelumnya.</p>
<p>Langkah kedelapan adalah mengkaji cara meluruskan persepsi kita yang keliru terhadap efisiensi waktu. Disini kita akan memahami bahwa yang bermasalah bukanlah waktu, tetapi cara pemanfaatannya.</p>
<p>Langkah kesembilan adalah bagaimana memimpin rapat dengan baik. Rapat merupakan hal terpenting serta sarana komunikasi yang mrnghabiskan mayoritas waktu direktur atau pimpinan.</p>
<p>Langkah kesepuluh adalah bagaimana mendelegasikan kerja dan tanggung jawab secara efektif. Pendelegasian adalah mempercayakan sebagian tugas kepada salah seorang asisten dan memberinya wewenang untuk mengambil keputusan yang dibutuhkan dalam melaksanakan tugas tersebut secara memuaskan. Atau pemberian bagian yang sama dari tanggung jawab dan wewenang dari seorang pemimpin kepada yang dipimpin.</p>
<p>Langkah kesebelas adalah belajar mengoptimalkan waktu santai sebagaimana mengoptimalkan waktu kerja sebab hidup yang teratur dan seimbang dapat memberi peluang waktu untuk melakukan berbagai hal.</p>
<p>Langkah kedua belas adalah mengkaji contoh-contoh aplikatif tentang manajemen waktu yang efektif dan aplikasinya di lapangan.</p>
<p>Langkah ketiga belas adalah mendidik anak-anak agar menghargai waktu sebab keunggulan kita tersimpan pada kemampuan menjadikan orang-orang sekitar berjalan menuju satu sasaran bersama kita.</p>
<p>Langkah keempat belas adalah bagaimana melatih orang lain agar mampu memanfaatkan waktu secara optimal. Dimana dalam langkah ini ditampilkan juga contoh dauroh untuk meningkatkan perhatian pada urgensi waktu. Juga memberi target-target yang mesti dicapai dalam dauroh tersebut.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.forkomalims.com/book-review/manajemen-diri/manajemen-waktu-yuti-arlanininih-datanya-lengkapbaguus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sirah Nabi (Rahayu Mulya..lp judul bukunya..)</title>
		<link>http://www.forkomalims.com/book-review/kapasitas-ruhani/sirah-nabi-rahayu-mulyalp-judul-bukunya/</link>
		<comments>http://www.forkomalims.com/book-review/kapasitas-ruhani/sirah-nabi-rahayu-mulyalp-judul-bukunya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 May 2009 14:57:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>albinadigital</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapasitas Ruhani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://albinadigital.wordpress.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Selama 4 pekan ada kejadian besar yang terjadi di mata orang musrik:

Hamzah masuk Islam
Umar masuk Islam
Muhammad Saw menolak tawaran kesepakatan dengan kaum Quraisy

Hal tersebut membuat kaum musyrikin binging, mereka sadar jika darak Muhammad tumpah, maka mekkah pasti digenangi oleh darah manusia.
piagam kezaliman dan kesewenang-wengangan

kaum musyrikin berkumpul di      perkampungan bani Kinanah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selama 4 pekan ada kejadian besar yang terjadi di mata orang musrik:</p>
<ol>
<li>Hamzah masuk Islam</li>
<li>Umar masuk Islam</li>
<li>Muhammad Saw menolak tawaran kesepakatan dengan kaum Quraisy</li>
</ol>
<p>Hal tersebut membuat kaum musyrikin binging, mereka sadar jika darak Muhammad tumpah, maka mekkah pasti digenangi oleh darah manusia.</p>
<p><strong>piagam kezaliman dan kesewenang-wengangan</strong></p>
<ul>
<li>kaum musyrikin berkumpul di      perkampungan bani Kinanah untuk membuat kesepakatan bersama menghadapi      bani Hasyim dan Bani Al-Muthalib</li>
<li>isi piagamnya: larangan      menikah, jual beli, berteman, berkumpul,      memasuli rumah , berbicara dengan mereka, KECUALI jika mereka menyerahkan      Muhammad untuk dibunuh</li>
<li>piagam selesai dibuat, lalu      ditempel di tembok nagian dalan Ka&#8217;bah</li>
<li>Bani      Hasyim dan Bani Muthalib bergabung jadi satu, baik yang muslim maupun yang      kafir, kecuali ABU LAHAB</li>
</ul>
<p><strong>Tiga Tahun Pemboikotan</strong></p>
<ul>
<li>keadaan Bani HAsyim dan Bani      Muthalib benar-benar mengenaskan dan kelaparan sampai-sampai hanya makan      dedaunan dan kulit binatang, sering terdengar rintihan dari anak-anak dan      wanita yang kelaparan.</li>
<li>bahan makanan bisa masuk lewat cara      sembunyi-sembunyi, atau mereka hanya dapat berbelanja di bulan suci</li>
<li>Contoh peristiwa: Hakim Bin hizam pernah      membawa gandum untuk diberikan kepada bibinya, Khadijah Ra. <span id="more-24"></span>Namun abu      Jahal yang memergokinya mencegahnya. lalu Abul Bakhtary datang untuk      melerai keduanya, sehingga hakim tetap bisa membawa gandum itu untuk dibawa      untuk diberikan kepada bibinya.</li>
<li>tapi Rasulullah Saw bersama orang-orang      mukmin tetap keluar pada musim haji untuk menemui orang-orang dan menyeru      kepada islam.</li>
</ul>
<p><strong>pembatalan piagam</strong></p>
<ul>
<li>selama 3 tahun pemboikotan      terjadi</li>
<li>sebenarnya oarang-orang      Quraisy sendiri terbagi menjadi kaum yang setuju dan kaum yang tidak      setuju perihal peboikotan.</li>
<li>golongan yang tidak setuju,      didalangi oleh Hisyam Bin Amr dari bani Amir Bin Lu&#8217;ay berusaha      membatalkan piagam</li>
<li>Pada suatu kesempatan, saat      pendukungan Hisyam Bin Amr sudah banyak dan cukup kuat, maka Zuhair muncul      di tengah-tangan kita mekkah yang ramai sembari berkata &#8221; wahai      penduduk mekkah, kalian bisa menikmati makanan dan menggunakan pakaian,      sementara Bani Hasyim binasa tidak diperkenankan jual belai, Demi Allah      aku tidak akan duduk kecuali setelah piagam yang kejam dan zalim itu      dirobek.</li>
<li>Rasulullah pernah berkata      perihal piagam tersebut, Allah telah mengutus rayap untuk memakan papan      piagam tersebut. Lalu Abi Thalib memberitahu hal tersebut kepada kaum      Quraisy, jika perkataan Muhammad salah, maka pemboikotan tetap      berlangsing, tapi jika benar maka pemboikotan dihentikan</li>
<li>Al Muthim bangkit menhampiri      papan piagam untuk merobeknya lalu ia melihat rayap telah memakan isi      perjanjian kecuali penggalan tulisan &#8220;<em>Bismika Allahuma&#8221;</em> (dengan asma Mu Ya Allah) dan bagian lain yang ada lafadz Allah.</li>
<li>akhirnya piagam itu dirobek      dan isinya dibatalkan.</li>
</ul>
<p>Ibrah : &#8220;<em>dan jika mereka (orang-orang musyrik) melihat suatu tanda (mukzizat), mereka berpaling dan berkata (ini adalah)sihir yang terus menerus&#8221;</em> <strong>Al Qamar 2</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.forkomalims.com/book-review/kapasitas-ruhani/sirah-nabi-rahayu-mulyalp-judul-bukunya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Untukmu Kader Dakwah  (Teh Lia..)</title>
		<link>http://www.forkomalims.com/book-review/kapasitas-ruhani/untukmu-kader-dakwah-teh-lia/</link>
		<comments>http://www.forkomalims.com/book-review/kapasitas-ruhani/untukmu-kader-dakwah-teh-lia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Apr 2009 11:21:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>albinadigital</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapasitas Ruhani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://albinadigital.wordpress.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[Umm, tugasnya seru!!!
Bikin saya semangat untuk baca-baca buku lagi&#8230;Hohoho, banyak hal yang beda ketika kita mereview dibandingkan hanya membaca saja.
Kalau boleh saran, sebaiknya ada mekanisme evaluasi juga terkait tugas ini. Hehe, banyak yang belum ngumpulin ya? 


Ok, HRD&#8230;besok kita syuro kan?? 


InsyaAllah saya ikut&#8230;Amanah baru nih buat saya untuk mendampingi kalian. Secara selama ini, otak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><span style="color:#ff0000;">Umm, tugasnya seru!!!</span></div>
<div><span style="color:#ff0000;">Bikin saya semangat untuk baca-baca buku lagi&#8230;Hohoho, banyak hal yang beda ketika kita mereview dibandingkan hanya membaca saja.</span></div>
<div><span style="color:#ff0000;">Kalau boleh saran, sebaiknya ada mekanisme evaluasi juga terkait tugas ini. Hehe, banyak yang belum ngumpulin ya? </span></div>
<div><span style="color:#ff0000;"><br />
</span></div>
<div><span style="color:#ff0000;">Ok, HRD&#8230;besok kita syuro <span class="yshortcuts" style="border-bottom:1px dashed #0066cc;cursor:pointer;">kan</span>?? </span></div>
<div><span style="color:#ff0000;"><br />
</span></div>
<div><span style="color:#ff0000;">InsyaAllah saya ikut&#8230;Amanah baru nih buat saya untuk mendampingi kalian. Secara selama ini, otak terlalu disetting untuk mikir siyasi di keorganisasian. Jarang sekali pake perasaan, kepedulian dan empati. So, harus banyak belaja!!!! Ok dah, see you tomorrow&#8230;^^</span></div>
<div><span style="color:#ff0000;"><br />
</span></div>
<div><span style="color:#ff0000;">-qisthina aulia-</span></div>
<div><span style="color:#ff0000;"><br />
</span></div>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;">RISALAH TA’LIM</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;">Risalah ini merupakan strategi dalam tarbiyah dan pembentukan kader serta berisi tujuan-tujuan da’wah dan perangkat untuk mencapai tujuan tersebut. </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;"> </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">AL FAHMU</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Yang kami maksud dengan Al-Fahmu adalah, </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">“Anda yakin bahwa fikrah (pandangan) kami adalah fikrah Islamiyah yang solid, tangguh, serta Anda memahami bahwa Islam seperti apa yang kami pahami dalam kerangka dua puluh landasan (al-ushul al’isyrin).” </span><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;">(Hasan Al Banna)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:normal;margin:0 0 6pt .5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;">1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;">Islam adalah sistem yang menyuluruh, yang menyentuh seluruh segi kehidupan. Ia adalah negara dan tanah air, pemerintah dan umat, akhlak dan kekuatan, kasih sayang dan keadilan, peradaban dan undang-undang, ilmu dan peradilan, materi dan kekayaan alam, penghasilan dan kekayaan, jihad dan da’wah, pasukan dan pemikiran, sebagaimana juga bahwa ia adalah aqidah yang lurus dan ibadah yang benar, tidak kurang dan tidak lebih</span></span><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:normal;margin:0 0 6pt .5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;">2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;">Al-qur’an yang mulia dan sunah rasul yang suci adalah tempat kembali setiap muslim untuk memahami hukum-hukum Islam. Ia harus memahami Al-qur’an sesuai dengan kaidah bahasa arab, tanpa takalluf (mamaksakan diri) dan ta’assuf (serampangan). Ia juga harus memahami sunnah yang suci melalui rijalul hadist (perawi hadist) yang terpercaya<span id="more-20"></span></span></span><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:normal;margin:0 0 6pt .5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;">Iman yang tulus, ibadah yang benar, dan mujahadah (kesungguhan dalam beribadah) adalah cahaya dan kenikmatan yang ditanamkan Allah di hati hambaNya yang Dia kehendaki. Sedangkan ilham, lintasan perasaan, ketersingkapan (rahasia alam), dan mimpi, bukanlah bagian dari dalil hukum-hukum syariat. </span><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Ia bisa dianggap dalil dengan syarat jika tidak bertentangan dengan hukum agama</span></span><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:normal;margin:0 0 6pt .5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Jimat, mantra, ramalan, perdukunan, penyingkapan perkara gaib, guna-guna dan semisalnya, adalah kemungkaran yang harus diperangi kecuali mantra dari ayat Al-Qur’an atau ada riwayat dari Rasulullah saw</span></span><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:normal;margin:0 0 6pt .5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">5.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Pendapat iman atau wakilnya tentang sesuatu yang tidak ada teks hukumnya, tentang sesuatu yang mengandung ragam interpretasi, dan tentang sesuatu yang membawa kemaslahatan umum, bisa diamalkan sepanjang tidak bertentangan dengan kaidah umum syariat. Ia mungkin berubah seiring dengan situasi, kondisi dan tradisi setempat. Yang prinsip, ibadah itu diamalkan dengan kepasrahan total tanpa mempertimbangkan makna. Sedangkan dalam urusan selain ibadah (adat istiadat), maka harus mempertimbangkan maksud dan tujuannya</span></span><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:normal;margin:0 0 6pt .5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">6.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Setiap orang boleh diambil atau ditolak kata-katanya kecuali rasulullah saw. Setiap yang datang dari kalangan salaf dan sesuai dengan kitab dan sunnah, kita terima. Jika tidak sesuai dengannya, maka kitabullah dan sunnah RasulNya lebih utama untuk diikuti. Namun demikian, kita tidak boleh melontarkan kepada mereka kata-kata caci maki dan celaan ketika berselisih. Kita serahkan saja kepada niat mereka dan mereka telah berlalu dengan amal-amalnya</span></span><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:normal;margin:0 0 6pt .5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">7.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Setiap muslim yang belum mencapai kemampuan telaah terhadap dalil-dalil hukum furu’ (cabang) hendaklah mengikuti pemimpin agama. Namun alangkah baiknya jika ia pun berusaha semampu mungkin untuk mempelajari dalil-dalilnya sambil mengikutinya. Hendaknya ia menerima setiap masukan yang disertai dengan dalil, selama ia percaya dengan kapasitas orang yang memberi masukan itu. Dan hendaknya ia menyempurnakan kekurangannya dalam hal ilmu pengetahuan, jika ia termasuk orang yang pandai hingga mencapai derajat penelaah</span></span><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:normal;margin:0 0 6pt .5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;">8.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Khilaf dalam masalah furu’, hendaknya tidak menjadi faktor pemecah belah dalam agama, tidak menyebabkan permusuhan dan tidak juga kebencian. Setiap mujtahid mendapatkan pahalanya. Sementara itu, tidak ada larangan melakukan sutudi ilmiah yang jujur terhadap persoalan khilafiyah dalam naungan kasih sayang dan saling membantu karena Allah swt untuk menuju kebenaran. </span><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;">Semua itu tanpa melahirkan sikap egois dan fanatik</span></span><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:normal;margin:0 0 6pt .5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;">9.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;">Setiap masalah yang amal tidak dibangun diatasnya (sehingga menimbulkan perbincangan yang tidak perlu), adalah kegiatan yang dilarang secara syar’i. Misalnya memperbincangkan makna ayat-auay al-Qur’an yangkandungan maknanya tidak dipahami oleh akal dan pikiran, dsb</span></span><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:normal;margin:0 0 6pt .5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;">10.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;">Ma’rifat kepada Allah dengan sikap tauhid dan penyucian (dzatNya) adalah setinggi-tingginya tingkatan akidah dalam Islam. Sedangkan mengenai ayat-ayat sifat dan hadist shahih tentangnya, serta berbagai keterangan mustasyabihat yang berhubungan denganNya, cukup diimani sebagaimana adanya tanpa ta’wil dan ta’thil serta tidak memperuncing perbedaan yang terjadi diantara para ulama. Kita mencukupkan diri dengan keterangan yang ada, sebagaimana Rasulullah saw dan para sahabat mencukupkan diri dengannya</span></span><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;margin:0 0 6pt .5in;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;">“Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, ‘Kami beriman kepada ayat-ayat yang mustasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.’” (Ali Imran: 7)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:normal;margin:0 0 6pt .5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;">11.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;">Setiap bid’ah dalam agama Allah yang tidak ada pijakannya tetapi dianggap baik oleh hawa nafsu manusia, baik berupa penambahan maupun pengurangan, adalah kesesatan yang wajib diperangi dan dihancurkan dengan menggunakan cara yang terbaik, yang tidak justru menimbulkan bid’ah lain yang lebih parah</span></span><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:normal;margin:0 0 6pt .5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;">12.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;">Perbedaan pendapat dalam masalah bid’ah idhafiyah (bid’ah penambahan, seperti berdzikir dengan suara keras), bid’ah tarkiyah (misalnya praktek orang tasawuf yang meninggalkan makanan yang hukumnya halal dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah swt dan menyiksa diri), dan iltizam (membuat peraturan bagi ibadah yang bersifat mutlak, misalnya membaca secara rutin adzkar pada setiap malam jum’at dengan jumlah bilangan tertentu) terhadap ibadah muthlaqah (yang tidak ditetapkan, baik secara cara maupun waktunya) adalah perbedaan dalam masalah fiqh. Setiap orang mempunyai pendapat sendiri, namun tidaklah mengapa jika dilakukan penelitian untuk mendapatkan hakikatnya dengan dalil dan bukti-bukti</span></span><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:normal;margin:0 0 6pt .5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;">13.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;">Cinta kepada orang salih, memberikan penghormatan kepadanya dan memuji karena perilaku baiknya adalah bagian dari taqarub kepada Allah swt. Sedangkan para wali adalah mereka yang disebut dalam firmanNya, “Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka itu bertaqwa.”</span></span><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;margin:0 0 6pt .5in;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Karamah terhadap mereka itu benar terjadi jika memenuhi syarat syar’inya. Itu semua dengan suatu keyakinan bahwa mereka tidak memiliki madharat dan manfaat bagi dirinya apalagi bagi orang lain, baik ketika masih hidup maupun setelah mati.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:normal;margin:0 0 6pt .5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">14.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Ziarah kubur (kubur siapapun) adalah sunah yang disyariatkan dengan cara-cara yang disunahkan oleh Rasulullah saw. Akan tetapi meminta pertolongan kepada penghuni kubur siapapun mereka, berdoa kepadanya, memohon pemenuhan hajat (dari jarak dekat maupun kejauhan), bernadzar untuknya, membangun kuburnya, menutupinya dengan satir, memberikan penerangan, mengusapnya untuk mendapatkan berkah, bersumpah dengan selain Allah dan segala sesuatu yang serupa dengannya adalah bid’ah besar dan wajib diperangi. Jangan mencari ta’wil (pembenaran) terhadap berbagai perilaku itu, demi menutup pintu fitnah yang lebih parah lagi</span></span><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:normal;margin:0 0 6pt .5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">15.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Doa apabila diiringi dengan tawasul kepada Allah dengan salah satu mahlukNya adalah perselisihan furu’, menyangkut tata cara berdoa, bukan termasuk masalah aqidah</span></span><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:normal;margin:0 0 6pt .5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">16.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Istilah yang sudah mentradisi (misalnya, praktek ribawi dalam kehidupan ekonomi yang sudah dikemas dengan berbagai istilah sehingga mengesankan hukum boleh dan wajar), tidak mengubah hakikat hukum syar’inya. Akan tetapi, ia harus disesuaikan dengan maksud dan tujuan syariatnya itu, dan kita berpedoman dengannya. Disamping itu, kita juga harus berhati-hati terhadap berbagai istilah yang menipu (misalnya, prinsip bahwa Islam sangat peduli terhadap kaum dhuafa sehingga sering dijadikan hujjah bahwa Islam sama dengan sosialisme), yang sering digunakan dalam pembahasan masalah dunia dan agama. </span></span><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:normal;margin:0 0 6pt .5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">17.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Akidah adalah fondasi aktifitas. Aktifitas hati lebih utama dibandingkan aktifitas fisik, namun keduanya harus diupayakan untuk bisa disempurnakan</span></span><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:normal;margin:0 0 6pt .5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">18.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Islam itu membebaskan akal pikiran, menghimbaunya untuk melakukan telaah terhadap alam, mengangkat derajat ilmu dan ulamanya sekaligus, dan menyambut hadirnya segala sesuatu yang melahirkan masalahat dan manfaat. </span></span><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:normal;margin:0 0 6pt .5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">19.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Pandangan syar’i dan pandangan logika memiliki wilayahnya masing-masing yang tidak dapat saling memasuki secara sempurna. Namun demikian, keduanya tidak akan pernah berbeda (selalu beririsan) dalam masalah yang qath’i (absolut). Hakikat ilmiah yang benar tidak mungkin bertentangan dengan dengan kaidah syariat yang tsabitah (jelas). Sesuatu yang zhanni (interpretable) harus ditafsirkan agar sesuai dengan yang qath’i. JIka yang berhadapan adalah dua hal yang zhanni, maka pandangan syar’i lebih utama untuk diikuti, sampai logika mendapatkan legalitas kebenarannya atau gugur sama sekali</span></span><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:normal;margin:0 0 6pt .5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">20.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Kita tidak mengkafirkan seorang muslim yang telah mengikrarkan dua kalimat syahadat, mengamalkan kandungannya, dan menunaikan kewajibannya, baik karena lontaran pendapat maupun karena kemaksiatannya, kecuali jika ia mengatakan kata-kata yang kufur, mengingkari sesuatu yang telah diakui sebagai bagian penting dari agama, mendustakan secara terang-terangan Al-Qur’an, menafsirkan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab, atau berbuat sesuatu yang tidak mungkin diinterprestasikan kecuali dengan tindakan kufur</span></span><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Al-qur’an adalah PEDOMAN kami dan Rasulullah TELADAN kami…</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV"> </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">IKHLAS</span></strong><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV"><br />
Yang dimaksud dengan ikhlas adalah “bahwa seorang muslim dalam setiap katanya, aktivitas, dan jihadnya, semua harus dimaksudkan semata-mata untuk mencari ridha Allah dan pahala, tanpa mempertimbangkan aspek kekayaan, penampilan, pangkat, gelar, kemajuan, atau keterbelakangan. Dengan itulah, ia menjadi tentara fikrah dan aqidah, bukan tentara kepentingan dan ambisi pribadi.” (Hasan Al-Banna)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, adalah karena Allah Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu baginya dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku.” (Al-an’am: 162-163)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Allah adalah TUJUAN KAMI…ALLAH GHAYATUNA</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">AMAL</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Amal merupakan buah dari keikhlasan, “Dan katakanlah, ‘Bekerjalah kalian, maka Allah dan RasulNya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaan kalian itu, dan kalian akan dikembalikan kepada (Allah). Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakanNya kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan.’” </span><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;">(At-Taubah: 105)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;">Tingkatan amal             :</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:normal;margin:0 0 6pt .5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;">1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;">Perbaikan diri sendiri</span></span><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;margin:0 0 6pt .5in;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;">Menjadi orang yang kuat fisiknya, kokoh akhlaknya, luas wawasannya, mampu mencari penghidupan, selamat aqidahnya, benar ibadahnya, pejuang bagi diri sendiri, penuh perhatian akan waktunya, rapih urusannya, dan bermanfaat bagi orang lain.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:normal;margin:0 0 6pt .5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;">2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;">Pembentukan keluarga muslim</span></span><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:normal;margin:0 0 6pt .5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;">3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;">Bimbingan masyarakat</span></span><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;margin:0 0 6pt .5in;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;">Yaitu dengan menyebarkan da’wah, amar ma’ruf dan nahi mungkar, menggiring opini umum untuk memahami fikrah Islamiah dan mencelup praktek kehidupannya dengan nilai Islami secara terus menerus</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:normal;margin:0 0 6pt .5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Pembebeasan tanah air dari setiap penguasa asing (non-Islam), baik secara politik, ekonomi maupun moral</span></span><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:normal;margin:0 0 6pt .5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">5.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Memperbaiki keadaan pemerintahan sehingga menjadi pemerintahan Islam yang baik. Pemerintahan Islam terdiri dari kaum muslimin yang menunaikan kewajiban-kewajiban Islam, tidak bertentangan dengan kemaksiatan, dan konsisten menerapkan hukum serta ajaran Islam</span></span><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;margin:0 0 6pt .5in;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Tidaklah masalah menggunakan orang-orang non muslim jika dalam keadaan darurat, asalkan bukan untuk posisi jabatan yang strategis. Tidak terlalu penting nama jabatan tersebut, selama sesuai dengan kaidah umum dalam sisitem UU Islam maka diperbolehkan</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:normal;margin:0 0 6pt .5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">6.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Usaha mempersiapkan selurh aset negeri di dunia untuk kemaslahatan umat Islam.</span></span><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;margin:0 0 6pt .5in;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Hal ini dapat dilakukan dengan cara membebaskan seluruh negeri, membangun kejayaannya, mendekatkan peradabannya, dan menyatukan kata-katanya sehingga dapat mengembalikan tegaknya kekuasaan khilafah</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:normal;margin:0 0 6pt .5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">7.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Penegakan kepemimpinan dunia dengan penyebaran da’wah Islam di seantaro negeri</span></span><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV"> </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">JIHAD</span></strong><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV"><br />
</span><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa mati, sementara ia belum pernah berperang atau berniat untuk berperang, ia mati dalam keadaan jahiliyah.”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Peringkat pertama jihad adalah pengingakaran dalam hati, dan peringkat terakhirnya adalah perang di jalan Allah. Sedangkan dianatara keduanya terdapat jihad dengan lisan, pena, tangan, dan kata-kata yang benar di hadapan penguasa yang zhalim. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Jihad adalah JALAN KAMI…</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">TADHIYAH (PENGORBANAN)</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Tadhiyah adalah pengorbanan jiwa, harta, waktu, kehidupan, dan segala sesuatu yang dipunyai oleh seseorang untuk meraih tujuan. Tidak ada perjuangan di dunia ini kecuali harus disertai dengan pengorbanan. Demi fikrah kita, janganlah engkau mempersempit pengorbanan karena sungguh…ia memiliki balasan yang agung dan pahala yang indah. (Hasan Al-Banna)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang beriman, diri dan harta mereka.” (At-Taubah: 11)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Gugur di jalan Allah adalah SETINGGI-TINGGINYA CITA-CITA KAMI…</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">TAAT</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Taat (kepatuhan) adalah menjalankan perintah dan merealisasikannya dengan serta merta, baik dalam keadaan sulit maupun mudah, saat bersemangat maupun malas, karena tahapan da’wah ini ada tiga yaitu:</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:normal;margin:0 0 6pt .5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;">1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;">Ta’rif</span></span><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;margin:0 0 6pt .5in;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Dalam tahapan ini, da’wah dilakukan dengan menyebarkan fikrah Islam di tengah masyarakat. Adapun sistem da’wah untuk tahapan ini adalah sistem kelembagaan. Urgansinya adalah kerja sosial bagi kepentingan umum, sedangkan medianya adalah nasihat dan bimbingan sekali waktu, serta membangun berbagai tempat yang berguna sebagai media aktifitasnya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:normal;margin:0 0 6pt .5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;">2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;">Takwin</span></span><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;margin:0 0 6pt .5in;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;">Dalam tahapan ini, da’wah ditegakkan dengan melakukan seleksi terhadap anasir positif untuk memikul beban jihad dan menghimpun berbagai bagian yang ada. </span><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Sistem da’wah dalam tahapan ini bersifat tasawuf murni dalam tataran ruhani, serta bersifat militer dalam tataran operasional. Slogan untuk dua aspek ini adalah perintah dan taat tanpa ragu dan bimbang. Da’wah dalam tahapan ini bersifat khusus, tidak dapat dikerjakan oleh seseorang kecuali yang memiliki kesiapan secara benar untuk memikul beban jihad yang panjang masanya dan berat tantangannya. </span><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;">Slogan utama dalam persiapan ini adalah: TOTALITAS KETAATAN</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:normal;margin:0 0 6pt .5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;">3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;">Tanfidz</span></span><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;"> Da’wah dalam tahapan ini adalah jihad, tanpa kenal sikap plin-plan, kerja terus                 menerus untuk menggapai tujuan akhir, serta kesiapannya menanggung cobaan              dan ujian yang tidak mungkin bersabar atasnya kecuali orang-orang yang tulus.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;">Da’wah ini tidaklah dapat meraih keberhasilan, kecuali dengan KETAATAN YANG TOTAL. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;">TSABAT (KETEGUHAN)</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;">Bahwa seorang akh hendaknya senantiasa bekerja sebagai mujahid di jalan yang mengantarkan pada tujuan, betapapun jauh jangkauannya dan lama waktunya, sehingga bertemu dengan Allah dalam keadaan demikian, sedangkan ia telah berhasil mendapatkan salah satu dari dua kebaikan: meraih kemengan atau syahid di jalanNya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">“Di antara orang-orang beriman itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka diantara mereka ada yang gugur. Dan diantara mereka ada pula yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya).” (Al-Ahzab: 23)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Waktu bagi kita adalah bagian dari solusi. Sedangkan jalan yang akan kami tempuh ini lama masanya, panjang tahapannya, dan banyak tantangannya. Namun, dialah satu-satunya jalan yang dapat mengantarkan kepada tujuan dan janji imbalan yang besar dan pahala yang indah.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">TAJARRUD (KEMURNIAN)</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Tajarrud adalah bahwa engkau harus membersihkan pola pikirmu dari berbagai prinsip nilai lain dan pengaruh individu, karena ia adalah setinggi-tingginya dan selengkap-lengkapnya fikrah. (Hasan Al-Banna)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">“Shibgah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibgahnya daripada selain Allah?” (Al-Baqarah: 138)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Manusia pada dasarnya terdiri atas 6 golongan, yaitu: </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Pertama, kelompok muslim yang pejuang (mujahid). Sikap kita terhadapnya adalah wa’ra (setia), jika mereka juga menunjukkan kesetiannya kepada kita meskipun berbeda ijtihadnya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Kedua, kelompok muslim yang duduk-duduk (diam karena udzur/ alasan syar’i). Sikap kita terhadapnya adalah wala’ dan memaklumi udzurnya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Ketiga, kelompok muslim pendosa (suka berbuat dosa dan diam tanpa alasan). Sikap kita terhadapnya adalah memberikan da’wah dan nasehat. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Keempat, kelompok dzimmi atau mua’hid (orang kafir yang terikat oleh perjanjian damai an tidak melanggar perjanjian). Sikap kita terhadapnya adalah menepati apa yang telah disepakati bersama.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV"> Kelima, adalah kelompok muhayid (orang kafir yang dilindungi). Sikap kita terhadapnya adalah memberikan perlindungan dan tidak menganiayanya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Keenam, adalah kelompok  muharib (orang kafir yang memerangi). Secara prinsip, hubungan kita dengan mereka adalah hubungan peperangan, kecuali jika kita tengah menyusun siasat tipu daya atau semacamnya, sepanjang disyariatkan oleh Islam. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">UKHUWAH</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Yang dimaksud dengan ukhuwah adalah terikatnya hati dan ruhani dengan ikatan akidah. Akidah adalah sekokoh-kokohnya dan semulia-mulianya ikatan. Kekuatan yang pertama adalah kekuatan persatuan. Tidak ada persatuan tanpa cinta kasih. Cinta kasih yang minimal adalah kelapangan dada dan maksimalnya adalah itsar (mementingkan kepentingan orang lain daripada diri sendiri).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">TSIQAH (KEPERCAYAAN)</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Tsiqah adalah rasa puasnya seorang tentara atas komandannya, dalam hal kapasitas kepemimpinannya maupun keikhlasannya, dengan kepuasan mendalam yang menghasilkan perasaan cinta, penghargaan, penghormatan dan ketaatan. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;">Pemimpin adalah unsur penting da’wah. </span><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Tidak ada da’wah tanpa kepemimpinan. Kadar kepercayaan yang timbal balik antara pemimpin dan pasukan, menjadi neraca yang menentukan sejauh mana kekuatan sistem jama’ah, ketahanan khitahnya, keberhasilannya mewujudkan tujuan, dan ketegarannya menghadapi berbagai tantangan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Kepemimpinan, menduduki posisi orangtua dalam hal ikatan hati, fungsi guru dalam hal pengajaran, posisi syaikh dalam aspek pendidikan ruhani, dan posisi pemimpin dalam aspek penentuan kebijakan politik secara umum bagi da’wah. Da’wah kami menghimpun pengertian ini secara keseluruhan dan tsiqah terhadap kepemimpinan adalah segala-galanya bagi keberhasilan da’wah. Karena itu, setiap kita harus bertanya pada diri sendiri sejauh mana kepercayaan dirinya terhadap kepemimpinan yang ada:</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:normal;margin:0 0 6pt .5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Apakah pernah mempelajari riwayat hidupnya?</span></span><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:normal;margin:0 0 6pt .5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Apakah percaya kepada kapasitas dan keikhlasannya?</span></span><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:normal;margin:0 0 6pt .5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Apakah kita siap menganggap semua instruksi yang diputuskan oleh pemimpin (yang tanpa maksiat), sebagai instruksi yang harus dilaksanakan tanpa reserve, tanpa ragu, tanpa ditambah atau dikurangi, dengan keberanian memberi nasehat dan peringatan untuk tujuan yang benar?</span></span><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:normal;margin:0 0 6pt .5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Apakah kita siap untuk menganggap dirinya salah dan pemimpinnya benar, jika terjadi pertentangan antara apa yang diperintahkan pemimpin dan apa yang ia ketahui dalam masalah ijtidaiyah yang tidak ada teks tegasnya dalam syari’at?</span></span><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:normal;margin:0 0 6pt .5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">5.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Apakah kita siap untuk meletakkan seluruh aktifitas kehidupannya dalam kendali da’wah? Apakah dalam pandangan kita sudah meyakini bahwa pemimpin memiliki hak untuk mentarjih (menimbang dan memutuskan) antara kemaslahatan dirinya dan kemaslahatan da’wah secara umum?</span></span><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">PENUTUP</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Inilah bingkai global da’wahmu dan penjelasan ringkas fikrahmu. Engkau dapat menghimpun prinsip-prinsip ini dalam lima slogan: </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Allah Ghayatuna (Allah tujuan kami), Ar-Rasul Qudwatuna (Rasul adalah teladan kami), Al-Qur’an Syir’atuna (Qur’an adalah undang-undang kami), Al-Jihad Sabiluna (Jihad adalah jalan kami), dan Asy-Syahadah Umniyyatuna (Mati syahid adalah cita-cita kami).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Engkaupun bisa menghimpunnya dalam berbagai kata berikut: </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Kesederhanaan, tilawah, shalat, keprajuritan, dan akhlak. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Cengkramlah sungguh-sungguh bimbingan ini. Jika tidak demikian, maka engkau akan jatuh dalam barisan qa’idin (yang duduk-duduk santai), yang akan mengantarkanmu menjadi pemalas dan tukang iseng. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">“Wahai orang-orang yang beriman, sukakah kalian Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kalian dari adzab yang pedih? Yaitu kalian beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa kalian. Itulah yang lebih baik bagi kalian, jika kalian mengetahuinya.” (As-Shaff: 10-11)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">Sumber              :</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#000000;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:Candara;" lang="SV">MAJMU’ATUR RASAIL 1 (Kumpulan Risalah Da’wah Hasan Al-Banna), Bab Risalah Ta’lim, hlm. 291- 319</span></strong></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.forkomalims.com/book-review/kapasitas-ruhani/untukmu-kader-dakwah-teh-lia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
