FORKOM ALIMS

Untukmu Kader Dakwah (Teh Lia..)

Umm, tugasnya seru!!!
Bikin saya semangat untuk baca-baca buku lagi…Hohoho, banyak hal yang beda ketika kita mereview dibandingkan hanya membaca saja.
Kalau boleh saran, sebaiknya ada mekanisme evaluasi juga terkait tugas ini. Hehe, banyak yang belum ngumpulin ya?

Ok, HRD…besok kita syuro kan??

InsyaAllah saya ikut…Amanah baru nih buat saya untuk mendampingi kalian. Secara selama ini, otak terlalu disetting untuk mikir siyasi di keorganisasian. Jarang sekali pake perasaan, kepedulian dan empati. So, harus banyak belaja!!!! Ok dah, see you tomorrow…^^

-qisthina aulia-

RISALAH TA’LIM

Risalah ini merupakan strategi dalam tarbiyah dan pembentukan kader serta berisi tujuan-tujuan da’wah dan perangkat untuk mencapai tujuan tersebut.

AL FAHMU

Yang kami maksud dengan Al-Fahmu adalah,

“Anda yakin bahwa fikrah (pandangan) kami adalah fikrah Islamiyah yang solid, tangguh, serta Anda memahami bahwa Islam seperti apa yang kami pahami dalam kerangka dua puluh landasan (al-ushul al’isyrin).” (Hasan Al Banna)

1. Islam adalah sistem yang menyuluruh, yang menyentuh seluruh segi kehidupan. Ia adalah negara dan tanah air, pemerintah dan umat, akhlak dan kekuatan, kasih sayang dan keadilan, peradaban dan undang-undang, ilmu dan peradilan, materi dan kekayaan alam, penghasilan dan kekayaan, jihad dan da’wah, pasukan dan pemikiran, sebagaimana juga bahwa ia adalah aqidah yang lurus dan ibadah yang benar, tidak kurang dan tidak lebih

2. Al-qur’an yang mulia dan sunah rasul yang suci adalah tempat kembali setiap muslim untuk memahami hukum-hukum Islam. Ia harus memahami Al-qur’an sesuai dengan kaidah bahasa arab, tanpa takalluf (mamaksakan diri) dan ta’assuf (serampangan). Ia juga harus memahami sunnah yang suci melalui rijalul hadist (perawi hadist) yang terpercaya

3. Iman yang tulus, ibadah yang benar, dan mujahadah (kesungguhan dalam beribadah) adalah cahaya dan kenikmatan yang ditanamkan Allah di hati hambaNya yang Dia kehendaki. Sedangkan ilham, lintasan perasaan, ketersingkapan (rahasia alam), dan mimpi, bukanlah bagian dari dalil hukum-hukum syariat. Ia bisa dianggap dalil dengan syarat jika tidak bertentangan dengan hukum agama

4. Jimat, mantra, ramalan, perdukunan, penyingkapan perkara gaib, guna-guna dan semisalnya, adalah kemungkaran yang harus diperangi kecuali mantra dari ayat Al-Qur’an atau ada riwayat dari Rasulullah saw

5. Pendapat iman atau wakilnya tentang sesuatu yang tidak ada teks hukumnya, tentang sesuatu yang mengandung ragam interpretasi, dan tentang sesuatu yang membawa kemaslahatan umum, bisa diamalkan sepanjang tidak bertentangan dengan kaidah umum syariat. Ia mungkin berubah seiring dengan situasi, kondisi dan tradisi setempat. Yang prinsip, ibadah itu diamalkan dengan kepasrahan total tanpa mempertimbangkan makna. Sedangkan dalam urusan selain ibadah (adat istiadat), maka harus mempertimbangkan maksud dan tujuannya

6. Setiap orang boleh diambil atau ditolak kata-katanya kecuali rasulullah saw. Setiap yang datang dari kalangan salaf dan sesuai dengan kitab dan sunnah, kita terima. Jika tidak sesuai dengannya, maka kitabullah dan sunnah RasulNya lebih utama untuk diikuti. Namun demikian, kita tidak boleh melontarkan kepada mereka kata-kata caci maki dan celaan ketika berselisih. Kita serahkan saja kepada niat mereka dan mereka telah berlalu dengan amal-amalnya

7. Setiap muslim yang belum mencapai kemampuan telaah terhadap dalil-dalil hukum furu’ (cabang) hendaklah mengikuti pemimpin agama. Namun alangkah baiknya jika ia pun berusaha semampu mungkin untuk mempelajari dalil-dalilnya sambil mengikutinya. Hendaknya ia menerima setiap masukan yang disertai dengan dalil, selama ia percaya dengan kapasitas orang yang memberi masukan itu. Dan hendaknya ia menyempurnakan kekurangannya dalam hal ilmu pengetahuan, jika ia termasuk orang yang pandai hingga mencapai derajat penelaah

8. Khilaf dalam masalah furu’, hendaknya tidak menjadi faktor pemecah belah dalam agama, tidak menyebabkan permusuhan dan tidak juga kebencian. Setiap mujtahid mendapatkan pahalanya. Sementara itu, tidak ada larangan melakukan sutudi ilmiah yang jujur terhadap persoalan khilafiyah dalam naungan kasih sayang dan saling membantu karena Allah swt untuk menuju kebenaran. Semua itu tanpa melahirkan sikap egois dan fanatik

9. Setiap masalah yang amal tidak dibangun diatasnya (sehingga menimbulkan perbincangan yang tidak perlu), adalah kegiatan yang dilarang secara syar’i. Misalnya memperbincangkan makna ayat-auay al-Qur’an yangkandungan maknanya tidak dipahami oleh akal dan pikiran, dsb

10. Ma’rifat kepada Allah dengan sikap tauhid dan penyucian (dzatNya) adalah setinggi-tingginya tingkatan akidah dalam Islam. Sedangkan mengenai ayat-ayat sifat dan hadist shahih tentangnya, serta berbagai keterangan mustasyabihat yang berhubungan denganNya, cukup diimani sebagaimana adanya tanpa ta’wil dan ta’thil serta tidak memperuncing perbedaan yang terjadi diantara para ulama. Kita mencukupkan diri dengan keterangan yang ada, sebagaimana Rasulullah saw dan para sahabat mencukupkan diri dengannya

“Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, ‘Kami beriman kepada ayat-ayat yang mustasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.’” (Ali Imran: 7)

11. Setiap bid’ah dalam agama Allah yang tidak ada pijakannya tetapi dianggap baik oleh hawa nafsu manusia, baik berupa penambahan maupun pengurangan, adalah kesesatan yang wajib diperangi dan dihancurkan dengan menggunakan cara yang terbaik, yang tidak justru menimbulkan bid’ah lain yang lebih parah

12. Perbedaan pendapat dalam masalah bid’ah idhafiyah (bid’ah penambahan, seperti berdzikir dengan suara keras), bid’ah tarkiyah (misalnya praktek orang tasawuf yang meninggalkan makanan yang hukumnya halal dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah swt dan menyiksa diri), dan iltizam (membuat peraturan bagi ibadah yang bersifat mutlak, misalnya membaca secara rutin adzkar pada setiap malam jum’at dengan jumlah bilangan tertentu) terhadap ibadah muthlaqah (yang tidak ditetapkan, baik secara cara maupun waktunya) adalah perbedaan dalam masalah fiqh. Setiap orang mempunyai pendapat sendiri, namun tidaklah mengapa jika dilakukan penelitian untuk mendapatkan hakikatnya dengan dalil dan bukti-bukti

13. Cinta kepada orang salih, memberikan penghormatan kepadanya dan memuji karena perilaku baiknya adalah bagian dari taqarub kepada Allah swt. Sedangkan para wali adalah mereka yang disebut dalam firmanNya, “Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka itu bertaqwa.”

Karamah terhadap mereka itu benar terjadi jika memenuhi syarat syar’inya. Itu semua dengan suatu keyakinan bahwa mereka tidak memiliki madharat dan manfaat bagi dirinya apalagi bagi orang lain, baik ketika masih hidup maupun setelah mati.

14. Ziarah kubur (kubur siapapun) adalah sunah yang disyariatkan dengan cara-cara yang disunahkan oleh Rasulullah saw. Akan tetapi meminta pertolongan kepada penghuni kubur siapapun mereka, berdoa kepadanya, memohon pemenuhan hajat (dari jarak dekat maupun kejauhan), bernadzar untuknya, membangun kuburnya, menutupinya dengan satir, memberikan penerangan, mengusapnya untuk mendapatkan berkah, bersumpah dengan selain Allah dan segala sesuatu yang serupa dengannya adalah bid’ah besar dan wajib diperangi. Jangan mencari ta’wil (pembenaran) terhadap berbagai perilaku itu, demi menutup pintu fitnah yang lebih parah lagi

15. Doa apabila diiringi dengan tawasul kepada Allah dengan salah satu mahlukNya adalah perselisihan furu’, menyangkut tata cara berdoa, bukan termasuk masalah aqidah

16. Istilah yang sudah mentradisi (misalnya, praktek ribawi dalam kehidupan ekonomi yang sudah dikemas dengan berbagai istilah sehingga mengesankan hukum boleh dan wajar), tidak mengubah hakikat hukum syar’inya. Akan tetapi, ia harus disesuaikan dengan maksud dan tujuan syariatnya itu, dan kita berpedoman dengannya. Disamping itu, kita juga harus berhati-hati terhadap berbagai istilah yang menipu (misalnya, prinsip bahwa Islam sangat peduli terhadap kaum dhuafa sehingga sering dijadikan hujjah bahwa Islam sama dengan sosialisme), yang sering digunakan dalam pembahasan masalah dunia dan agama.

17. Akidah adalah fondasi aktifitas. Aktifitas hati lebih utama dibandingkan aktifitas fisik, namun keduanya harus diupayakan untuk bisa disempurnakan

18. Islam itu membebaskan akal pikiran, menghimbaunya untuk melakukan telaah terhadap alam, mengangkat derajat ilmu dan ulamanya sekaligus, dan menyambut hadirnya segala sesuatu yang melahirkan masalahat dan manfaat.

19. Pandangan syar’i dan pandangan logika memiliki wilayahnya masing-masing yang tidak dapat saling memasuki secara sempurna. Namun demikian, keduanya tidak akan pernah berbeda (selalu beririsan) dalam masalah yang qath’i (absolut). Hakikat ilmiah yang benar tidak mungkin bertentangan dengan dengan kaidah syariat yang tsabitah (jelas). Sesuatu yang zhanni (interpretable) harus ditafsirkan agar sesuai dengan yang qath’i. JIka yang berhadapan adalah dua hal yang zhanni, maka pandangan syar’i lebih utama untuk diikuti, sampai logika mendapatkan legalitas kebenarannya atau gugur sama sekali

20. Kita tidak mengkafirkan seorang muslim yang telah mengikrarkan dua kalimat syahadat, mengamalkan kandungannya, dan menunaikan kewajibannya, baik karena lontaran pendapat maupun karena kemaksiatannya, kecuali jika ia mengatakan kata-kata yang kufur, mengingkari sesuatu yang telah diakui sebagai bagian penting dari agama, mendustakan secara terang-terangan Al-Qur’an, menafsirkan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab, atau berbuat sesuatu yang tidak mungkin diinterprestasikan kecuali dengan tindakan kufur

Al-qur’an adalah PEDOMAN kami dan Rasulullah TELADAN kami…

IKHLAS
Yang dimaksud dengan ikhlas adalah “bahwa seorang muslim dalam setiap katanya, aktivitas, dan jihadnya, semua harus dimaksudkan semata-mata untuk mencari ridha Allah dan pahala, tanpa mempertimbangkan aspek kekayaan, penampilan, pangkat, gelar, kemajuan, atau keterbelakangan. Dengan itulah, ia menjadi tentara fikrah dan aqidah, bukan tentara kepentingan dan ambisi pribadi.” (Hasan Al-Banna)

“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, adalah karena Allah Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu baginya dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku.” (Al-an’am: 162-163)

Allah adalah TUJUAN KAMI…ALLAH GHAYATUNA

AMAL

Amal merupakan buah dari keikhlasan, “Dan katakanlah, ‘Bekerjalah kalian, maka Allah dan RasulNya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaan kalian itu, dan kalian akan dikembalikan kepada (Allah). Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakanNya kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan.’” (At-Taubah: 105)

Tingkatan amal             :

1. Perbaikan diri sendiri

Menjadi orang yang kuat fisiknya, kokoh akhlaknya, luas wawasannya, mampu mencari penghidupan, selamat aqidahnya, benar ibadahnya, pejuang bagi diri sendiri, penuh perhatian akan waktunya, rapih urusannya, dan bermanfaat bagi orang lain.

2. Pembentukan keluarga muslim

3. Bimbingan masyarakat

Yaitu dengan menyebarkan da’wah, amar ma’ruf dan nahi mungkar, menggiring opini umum untuk memahami fikrah Islamiah dan mencelup praktek kehidupannya dengan nilai Islami secara terus menerus

4. Pembebeasan tanah air dari setiap penguasa asing (non-Islam), baik secara politik, ekonomi maupun moral

5. Memperbaiki keadaan pemerintahan sehingga menjadi pemerintahan Islam yang baik. Pemerintahan Islam terdiri dari kaum muslimin yang menunaikan kewajiban-kewajiban Islam, tidak bertentangan dengan kemaksiatan, dan konsisten menerapkan hukum serta ajaran Islam

Tidaklah masalah menggunakan orang-orang non muslim jika dalam keadaan darurat, asalkan bukan untuk posisi jabatan yang strategis. Tidak terlalu penting nama jabatan tersebut, selama sesuai dengan kaidah umum dalam sisitem UU Islam maka diperbolehkan

6. Usaha mempersiapkan selurh aset negeri di dunia untuk kemaslahatan umat Islam.

Hal ini dapat dilakukan dengan cara membebaskan seluruh negeri, membangun kejayaannya, mendekatkan peradabannya, dan menyatukan kata-katanya sehingga dapat mengembalikan tegaknya kekuasaan khilafah

7. Penegakan kepemimpinan dunia dengan penyebaran da’wah Islam di seantaro negeri

JIHAD
Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa mati, sementara ia belum pernah berperang atau berniat untuk berperang, ia mati dalam keadaan jahiliyah.”

Peringkat pertama jihad adalah pengingakaran dalam hati, dan peringkat terakhirnya adalah perang di jalan Allah. Sedangkan dianatara keduanya terdapat jihad dengan lisan, pena, tangan, dan kata-kata yang benar di hadapan penguasa yang zhalim.

Jihad adalah JALAN KAMI…

TADHIYAH (PENGORBANAN)

Tadhiyah adalah pengorbanan jiwa, harta, waktu, kehidupan, dan segala sesuatu yang dipunyai oleh seseorang untuk meraih tujuan. Tidak ada perjuangan di dunia ini kecuali harus disertai dengan pengorbanan. Demi fikrah kita, janganlah engkau mempersempit pengorbanan karena sungguh…ia memiliki balasan yang agung dan pahala yang indah. (Hasan Al-Banna)

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang beriman, diri dan harta mereka.” (At-Taubah: 11)

Gugur di jalan Allah adalah SETINGGI-TINGGINYA CITA-CITA KAMI…

TAAT

Taat (kepatuhan) adalah menjalankan perintah dan merealisasikannya dengan serta merta, baik dalam keadaan sulit maupun mudah, saat bersemangat maupun malas, karena tahapan da’wah ini ada tiga yaitu:

1. Ta’rif

Dalam tahapan ini, da’wah dilakukan dengan menyebarkan fikrah Islam di tengah masyarakat. Adapun sistem da’wah untuk tahapan ini adalah sistem kelembagaan. Urgansinya adalah kerja sosial bagi kepentingan umum, sedangkan medianya adalah nasihat dan bimbingan sekali waktu, serta membangun berbagai tempat yang berguna sebagai media aktifitasnya.

2. Takwin

Dalam tahapan ini, da’wah ditegakkan dengan melakukan seleksi terhadap anasir positif untuk memikul beban jihad dan menghimpun berbagai bagian yang ada. Sistem da’wah dalam tahapan ini bersifat tasawuf murni dalam tataran ruhani, serta bersifat militer dalam tataran operasional. Slogan untuk dua aspek ini adalah perintah dan taat tanpa ragu dan bimbang. Da’wah dalam tahapan ini bersifat khusus, tidak dapat dikerjakan oleh seseorang kecuali yang memiliki kesiapan secara benar untuk memikul beban jihad yang panjang masanya dan berat tantangannya. Slogan utama dalam persiapan ini adalah: TOTALITAS KETAATAN

3. Tanfidz

Da’wah dalam tahapan ini adalah jihad, tanpa kenal sikap plin-plan, kerja terus                 menerus untuk menggapai tujuan akhir, serta kesiapannya menanggung cobaan              dan ujian yang tidak mungkin bersabar atasnya kecuali orang-orang yang tulus.

Da’wah ini tidaklah dapat meraih keberhasilan, kecuali dengan KETAATAN YANG TOTAL.

TSABAT (KETEGUHAN)

Bahwa seorang akh hendaknya senantiasa bekerja sebagai mujahid di jalan yang mengantarkan pada tujuan, betapapun jauh jangkauannya dan lama waktunya, sehingga bertemu dengan Allah dalam keadaan demikian, sedangkan ia telah berhasil mendapatkan salah satu dari dua kebaikan: meraih kemengan atau syahid di jalanNya.

“Di antara orang-orang beriman itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka diantara mereka ada yang gugur. Dan diantara mereka ada pula yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya).” (Al-Ahzab: 23)

Waktu bagi kita adalah bagian dari solusi. Sedangkan jalan yang akan kami tempuh ini lama masanya, panjang tahapannya, dan banyak tantangannya. Namun, dialah satu-satunya jalan yang dapat mengantarkan kepada tujuan dan janji imbalan yang besar dan pahala yang indah.

TAJARRUD (KEMURNIAN)

Tajarrud adalah bahwa engkau harus membersihkan pola pikirmu dari berbagai prinsip nilai lain dan pengaruh individu, karena ia adalah setinggi-tingginya dan selengkap-lengkapnya fikrah. (Hasan Al-Banna)

“Shibgah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibgahnya daripada selain Allah?” (Al-Baqarah: 138)

Manusia pada dasarnya terdiri atas 6 golongan, yaitu:

Pertama, kelompok muslim yang pejuang (mujahid). Sikap kita terhadapnya adalah wa’ra (setia), jika mereka juga menunjukkan kesetiannya kepada kita meskipun berbeda ijtihadnya.

Kedua, kelompok muslim yang duduk-duduk (diam karena udzur/ alasan syar’i). Sikap kita terhadapnya adalah wala’ dan memaklumi udzurnya.

Ketiga, kelompok muslim pendosa (suka berbuat dosa dan diam tanpa alasan). Sikap kita terhadapnya adalah memberikan da’wah dan nasehat.

Keempat, kelompok dzimmi atau mua’hid (orang kafir yang terikat oleh perjanjian damai an tidak melanggar perjanjian). Sikap kita terhadapnya adalah menepati apa yang telah disepakati bersama.

Kelima, adalah kelompok muhayid (orang kafir yang dilindungi). Sikap kita terhadapnya adalah memberikan perlindungan dan tidak menganiayanya.

Keenam, adalah kelompok  muharib (orang kafir yang memerangi). Secara prinsip, hubungan kita dengan mereka adalah hubungan peperangan, kecuali jika kita tengah menyusun siasat tipu daya atau semacamnya, sepanjang disyariatkan oleh Islam.

UKHUWAH

Yang dimaksud dengan ukhuwah adalah terikatnya hati dan ruhani dengan ikatan akidah. Akidah adalah sekokoh-kokohnya dan semulia-mulianya ikatan. Kekuatan yang pertama adalah kekuatan persatuan. Tidak ada persatuan tanpa cinta kasih. Cinta kasih yang minimal adalah kelapangan dada dan maksimalnya adalah itsar (mementingkan kepentingan orang lain daripada diri sendiri).

TSIQAH (KEPERCAYAAN)

Tsiqah adalah rasa puasnya seorang tentara atas komandannya, dalam hal kapasitas kepemimpinannya maupun keikhlasannya, dengan kepuasan mendalam yang menghasilkan perasaan cinta, penghargaan, penghormatan dan ketaatan.

Pemimpin adalah unsur penting da’wah. Tidak ada da’wah tanpa kepemimpinan. Kadar kepercayaan yang timbal balik antara pemimpin dan pasukan, menjadi neraca yang menentukan sejauh mana kekuatan sistem jama’ah, ketahanan khitahnya, keberhasilannya mewujudkan tujuan, dan ketegarannya menghadapi berbagai tantangan.

Kepemimpinan, menduduki posisi orangtua dalam hal ikatan hati, fungsi guru dalam hal pengajaran, posisi syaikh dalam aspek pendidikan ruhani, dan posisi pemimpin dalam aspek penentuan kebijakan politik secara umum bagi da’wah. Da’wah kami menghimpun pengertian ini secara keseluruhan dan tsiqah terhadap kepemimpinan adalah segala-galanya bagi keberhasilan da’wah. Karena itu, setiap kita harus bertanya pada diri sendiri sejauh mana kepercayaan dirinya terhadap kepemimpinan yang ada:

1. Apakah pernah mempelajari riwayat hidupnya?

2. Apakah percaya kepada kapasitas dan keikhlasannya?

3. Apakah kita siap menganggap semua instruksi yang diputuskan oleh pemimpin (yang tanpa maksiat), sebagai instruksi yang harus dilaksanakan tanpa reserve, tanpa ragu, tanpa ditambah atau dikurangi, dengan keberanian memberi nasehat dan peringatan untuk tujuan yang benar?

4. Apakah kita siap untuk menganggap dirinya salah dan pemimpinnya benar, jika terjadi pertentangan antara apa yang diperintahkan pemimpin dan apa yang ia ketahui dalam masalah ijtidaiyah yang tidak ada teks tegasnya dalam syari’at?

5. Apakah kita siap untuk meletakkan seluruh aktifitas kehidupannya dalam kendali da’wah? Apakah dalam pandangan kita sudah meyakini bahwa pemimpin memiliki hak untuk mentarjih (menimbang dan memutuskan) antara kemaslahatan dirinya dan kemaslahatan da’wah secara umum?

PENUTUP

Inilah bingkai global da’wahmu dan penjelasan ringkas fikrahmu. Engkau dapat menghimpun prinsip-prinsip ini dalam lima slogan:

Allah Ghayatuna (Allah tujuan kami), Ar-Rasul Qudwatuna (Rasul adalah teladan kami), Al-Qur’an Syir’atuna (Qur’an adalah undang-undang kami), Al-Jihad Sabiluna (Jihad adalah jalan kami), dan Asy-Syahadah Umniyyatuna (Mati syahid adalah cita-cita kami).

Engkaupun bisa menghimpunnya dalam berbagai kata berikut:

Kesederhanaan, tilawah, shalat, keprajuritan, dan akhlak.

Cengkramlah sungguh-sungguh bimbingan ini. Jika tidak demikian, maka engkau akan jatuh dalam barisan qa’idin (yang duduk-duduk santai), yang akan mengantarkanmu menjadi pemalas dan tukang iseng.

“Wahai orang-orang yang beriman, sukakah kalian Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kalian dari adzab yang pedih? Yaitu kalian beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa kalian. Itulah yang lebih baik bagi kalian, jika kalian mengetahuinya.” (As-Shaff: 10-11)

Sumber              :

MAJMU’ATUR RASAIL 1 (Kumpulan Risalah Da’wah Hasan Al-Banna), Bab Risalah Ta’lim, hlm. 291- 319

Komentar

3 Responses to “Untukmu Kader Dakwah (Teh Lia..)”
  1. ibu kelinci says:

    ahlan wa sahlan…
    akhirnya bisa buka juga^^..
    Hoho~gut job Qi…Jazakallah…
    Tapi lum pade ngumpulin ye?? Tagih ya di ikhwannya…

  2. ibu kelinci says:

    wakh,isinya keren lho te^^…sama dengan surat terbuka untuk generasi dakwah kan??

    (eh, sambil menulis, tiba2 teringat seusatu…tiba-tiba terkejut!!!!), tau kenapa??? not coz U R da first…
    tapi krn Ridha lagi bikin riviu lagi pengganti Komitmen Dai sejati yang kena virus, tahu judulnya???
    Risalah Ta’alim juga…!!!
    hhoho…

  3. ushmrkstv says:

    aku udah baca buku ini.. keren keren. merangkum dengan kata2 yang lebih ringkas.
    btw teh ridha, tugas review tu buat yang ga ikut IT aja atau gimana yah?
    aku juga bacanya buku ini soalnya.. kalo yang ikut IT juga harus bikin, aku numpang teh lia aja deh ^^v *ga boleh yah?*

Berikan Komentarmu

Ayo luapkan dan katakan apa yang kamu pikirkan...
dan kalau kamu mau menampilakn gambar di komentar kamu, coba deh gravatar!

FORKOM ALIMS