FORKOM ALIMS

Komitmen Da'i Sejati ( Teh Ridha..)

Penulis: Muhammad Abduh

Penerbit: Al-I’tishom

Tebal: 232 halaman

Buku setebal 232 halaman ini memberikan kita panduan, tips, sekaligus bagaimana memahami masalah-masalah yang klasik selalu terjadi pada seorang aktivis. Buku ini wajib dibaca bagi seseorang yang mengaku sebagai Aktivis Dakwah Sekolah atau Dakwah kampus. Mengapa? Karena kesungguhan dakwah seseorang itu akan diuji pertama melalui komitmennya (iltizam). “Keputusan seseorang untuk bergabung dalam gerakan dakwah, menuntut orang itu untuk senantiasa meluruskan dan memperbarui komitmennya supaya tidak ada lagi awan keraguan yang menyelimuti dirinya.” Kalau tidak memiliki dasar yang kuat, panjang dan berlikunya dakwah ini akan dapat dengan mudahnya membuat kita goyah di tengah jalan. Bahkan, bukan tidak mungkinakan membuat kita lpa dengan tujuan kita sendiri untuk berada di dalamnya. Bagaimana bisa kita hanya menjalankan kewajiban dakwah ini bila kita tidak senang berada di dalamnya?

Buku ini terdiri dari empat bab. Bab pertama berjudul “apakah bentuk komitmen saya terhadap dakwah?’ Lebih lanjutnya adalah sebuah pengantar untuk memberikan pemahaman singkat mengenaikondisi masyarakat di Mesir di zaman Hasan Al Banna masih hidup. Saat itu, kondisi Mesir msih cukup rawan karena gencarya pengaruh misionaris pada masyarakat yang sebagian besar adalah muslim. Selain itu, pengaruh Barat pada Mesir dianggap memasung kemerdekan Mesir karena mempengaruhi pemerintahan yang berkuasa agar mau berpihak pada mereka. Akibatnya adalah munculnya pemerintahan yang korup, lalim, dan menjadi boneka Negara-negara Barat.

Berangkat dari kondisi itu, Hasan Al Banna merasa berkewajiban untuk berda’wah menyadarkan rakyat Mesir akan keterpurukan kondisi mereka dan berjuang membebaskan mesir dari cengkraman kaum Barat dalam sebuah pergerakan bernama Ikhwanul Muslimin. Titik landasannya adalah dengan memahami aqidah yang benar yang menjadi landasan da’wah serta selalu berdasarkan Al Qur’an dan as Sunnah. Ia mengajak masyarakat mesir untuk menyadari bahwa Isam tidak sekadar menjalankan hubungan vertikel semata. Namun, sebuah system integral yang menyatu dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, membebaskan Mesir daripengaruh asing dan membentuk pemerintahan yang alami di Mesir adalah agenda terpenting saat itu.

Dengan memahami sejarah pergerakan ini, mudah-mudahan kita tidak sekadar jadi aktivis yang ikut-ikutan.Namun, benar-benar paham dengan perjungan yang dulu telah dimulai oleh para pendahulu-pendahulu kita, sehingga bila kita sekarangmenemukan hambatan-hambatan, kita akan lebih diingatkan betapa hambatana kita itu sangat tidak serupa.

Bab kedua berjudul “Sarana dan Persiapan”. Dalam ba ini dibahas mengenai bekal apa saja yang harus dipersiapkan bagi seorang dai dalam menajlankan aktivitas hariannya. Hal ini meliputi iman yang mendalam, kemauan kuat, sungguh-sunguh dan optimis. Selain itu, ada beberapa sikap yang juga dirasa cukup penting untuk dimiliki seorang da’I, yakni menjadi teladan bagi orang lain, lembut dan bersahaja sebagai kiat untuk memengaruhi orang lain, mampu menjaga rahasia, teguh dalam menepati janji, sanggup berkorban, memiliki kemampuan manajemen waktu, dan hidp teratur. Jelas terlihat bahwa ‘sarana dan persiapan’ yang dibahas dalam buku ini adalah modal bagi seorang da’I dalam menjalankan kesehariannya. Dengan melakukan ‘sarana dan persiapan’ ini, diharapkan da’wah akan semakin berkembang luas dan diterima masyarakat.

Bab ketiga berjudul ‘Kewajiban-kewajiban Praktis’. Singkatnya, bab ketiga ini adalah sebuah gambaran bagaimana menilai efektivitas hidup seorang da’i. Ia seharusnya bias menempatkan dirinya dalam pengawasan Allah (muroqobatullah). Oleh karena itu, aktivis da’wah yang dapat melakukan kewajiban-kewajiban praktis berarti telah mampu mengatasi godaan dunia, kemauan, dan dorongan jiwa yang lemah, sekaligus mampu menampilkan keberadabannya.

Dalam bab ini dijelaska mengenai kewajiban para pembaca untuk lebih proktif dalam da’wah. Artinya seorang da’I harus kreatif dan inovatif ketika melihat sebuah fenomena. Ia tidak menjadi ‘aktivis mandul’ yang hanya menunggu perintah dari qiyadahnya. Selain itu, hal yang juga cukup penting untuk dibahas dalam bab ini adalah mengenai kesiapan menunaikan kewajiban financial untuk da’wah, emangmalkan masalah-masalah fiqih yag ditetapkan oleh jamaah, memegang teguh sarana-sarana tarbiyah yang ditentukan oleh jamaah, percaya, hormat, dan ikhlas kepada qiyadah dalam setiap keputusan dan tindakan, melaksanakan kewajiban ukhuwah, aktif dan selalu mengikuti kegiatan-kegiatan umum yang diadakan oleh jamaah, serta mengikuti perkembangan berita jama’ah.

Bab keempat alias bab terakhir berjudul “Bahaya dan Rintangan’. Dalam bab ini dibahas mengenai hal-hal yang harus dihindari dan dapat memicu perselisihan dan perpecahan, bagaimana memberantas kantong-kantong semapaln (dhirarisme) adalah sebutan bagi mereka yang fanatic dengan pendapatnya sendiri dan tidak memperhatikan pendapat qiyadah, bagimana menghadapi orang ynhg ingin menang sendiri, dan suka berdebat dan saling membantah. Kemudian dibahas pula mengenai bagaimana menghadapi maalah kepentingan prbadi di atas kepentingan bersama, sering izin untuk tdak mengahadapi liqa, berambisi ingin menjadi pemimpin dan terlalu percaya diri, dan tidk memiliki pandangna yang jelas. Intinya, bab ini membahas mengenai ancaman-ancaman yang timbul dari intrapersonal seorang da’I itu sendiri. Jangan sampai mengaku da’I tetapi menunjukkan perilaku yang dapat menimbulkan dendam dan kebencian.

Berikan Komentarmu

Ayo luapkan dan katakan apa yang kamu pikirkan...
dan kalau kamu mau menampilakn gambar di komentar kamu, coba deh gravatar!

FORKOM ALIMS