Mencari Pahlawan Indonesia (by Ardhya I)
Penulis : Anis Matta
Penerbit : The Tarbawi Center, 2004

Mencari Pahlawan Indonesia merupakan kumpulan tulisan dari Anis Matta yang pernah dimuat dalam Serial Kepahlawanan di Majalah Tarbawi. Kumpulan tulisan ini bukanlah kumpulan angan-angan tentang sosok seorang yang turun dari langit untuk menjadi juru selamat dari krisis multidimensi yang melanda bangsa ini. Kumpulan tulisan ini justru mengajak kita untuk bersama-sama menelaah nilai-nilai dari seorang pahlawan serta faktor-faktor dibalik kepahlawanan seseorang. Kumpulan tulisan dalam bentuk sebuah buku ini pun mengajak kita untuk menumbuhkan suatu sosok pahlawan dari dalam diri kita, karena setiap diri kita memilki potensi untuk menjadi seorang pahlawan.
Filosofi
Apakah sebenarnya “pahlawan” itu? Banyak dari kita, yang masih memiliki paradigma bahwa seorang pahlawan adalah orang suci yang turun dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Padahal sebenarnya orang-orang yang kita kenal sebagai sesosok pahlawan yang nyata selama ini adalah manusia biasa pula. Manusia biasa, sama seperti kita. Karena, pahlawan sesungguhnya adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis. Mereka hanya manusia biasa yang berusaha memaksimalkan seluruh kemampuannya untuk memberikan yang terbaik yang terbaik bagi orang-orang di sekelilingnya. Namun, yang tidak kalah penting bagi seorang pahlawan adalah nilai keikhlasan. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa “pahwalawan” dapat menjadi suatu gelar yang diberikan oleh masyarakat. Nilai keikhlasan menjadi penting sebab keikhlasan lah yang akan membawa setiap orang pada hakikat yang besar dan abadi, dimana setap orang akan ditempatkan dengan layak, adil, dan objektif.
Trilogi Dunia Read more
Akhwat Excellent “Membentuk Karakter Muslimah Da’iyah” (Yuti lg)
Judul Buku: Akhwat Excellent “Membentuk Karakter Muslimah Da’iyah”
Pengarang: Mazaya Hasyima’
Editor: Didik Hermawan
Penerbit: Smart Media, Solo
Tebal: 292 halaman
Dilihat dari sisi tugas dan kewajibannya, wanita muslimah memiliki persamaan dengan kaum laki-laki. Setiap wanita muslimah harus memiliki kemampuan bermasyarakat dan dapat memberikan pengaruh. Agar bisa terwujud, wanita muslimah harus memiliki karakter-karakter tertentu agar bisa menjadi cahaya bagi sekitarnya.
Buku ini mencoba membahas secara panjang lebar hal-hal yang harus diwujudkan dalam diri seorang muslimah, agar dia menjadi cahaya.
Wanita muslimah harus memiliki etika yang mulia mengikuti akhlak Rasulullah, berlaku jujur, tidak mau menjadi saksi palsu karena perbuatan tersebut diharamkan oleh Allah swt., selalu memberikan nasehat, mengajak berbuat kebaikan, tidak berbohong – menipu – berkhianat, menepati janji, menjauhi kemunafikan, bersikap pemalu, serta mandiri dan tidak meminta-minta.
Wanita muslimah juga seharusnya tidak mencampuri urusan orang lain, tidak membongkar aib orang lain, menjauhi perbuatan riya’ (pamer), adil dalam keputusan, tidak zhalim kepada sesama, adil terhadap orang yang tidak disukai, tidak bersenang-senang di atas duka orang lain, menghindari prasangka buruk, tidak menggunjing dan provokasi, tidak berkata keji dan mencaci, tidak mengolok-olok orang lain, lemah lembut kepada orang lain dan memiliki sifat kasih sayang. Read more
Kekuatan Shalat Subuh (by Teh Wardah)
Resume buku oleh Wardah Imaniyyah (FDC)
Judul buku: Kekuatan Shalat Shubuh
Pengarang: Syaikh Nida Abu Ahmad
Penerbit: An Nadwah
Resume:
- Shalat Shubuh merupakan ujian sulit
Tujuan Allah memberikan ujian adalah:
- Memaparkan hujjah agar tidak ada seorang pun yang merasa dizhalimi atau dikurangi haknya oleh Allah pada hari kiamat.
- Membisahkan sesuatu yang baik dengan yang buruk,
- Membedakan anatara orang-orang jujur dengan para pembohong.
- Mengetahui tingkat keimanan dan kejujuran cinta orang beriman.
Ciri khas ujian:
- Sulit
- Tidak berupa hal-hal yang mustahil
Shalat tidak boleh dikerjakan semau kita. Shalat harus didirikan pada waktu yang diinginkan Allah. Allah. Allah memuji orang-orang yang menjaga waktu-waktu shalat dalam firmanNya di QS. Al Ma’arij: 34 karena Shalat pada waktunya merupakan amal perbuatan paling utama di sisi Allah.
Tingkatan orang yang menyia-nyiakan shalat dan ancamannya:
- Kelompok yang tidak menerima shalat sama sekali, diancam dengan Saqar (QS. Al Muddatstsir: 42-43)
- Kelompok yang menerima shalat tapi tidak menunaikannya, diancam degan Ghayya (Jahannam) (QS. Maryam: 59)
- Kelompok yang tidak peduli dengan shalat. Baginya, terserah apakah ia menunaikannya diawal waktu atau menundanya. Diancam dengan Wail (kecelakaan) (QS. Al Ma’un:4-5)
- Keutamaan Shalat Shubuh Read more
MINAL AIDIN WAL FAIZIN
Taqoballallohu minna wa minkum…
Jajaran Redaksi Albinadigital dan HRD mengucapkan…
Selamat Hari Raya Idul Fitri Mohon Maaf Lahir dan batin….
Semoga Ied kli ini dapat menjadi momentum perubahan bg kita…
Halal Haram Yusuf Qardhawi.. (oleh Qi Yahya)
Mungkin ini adalah dalah satu buku yang banyak jadi referensi dalam pergerakan dakwah kita…
Buku yang membahas salah satu dasar agama kita.. Syariat Halal dan haram…
Sebenarnya buku ini memberikan banyak contoh solutif dalam berbagai kasus, namun karena kebutuhan stiap pembaca berebda2 saya berusaha memaparkan gambaran umum bab 1 buku ini…
Prinsip2 Islam tentang Halal dan Haram
1. Segala sasuatu dasarnya mubah..
Mungkin kita sudah tahu secara umum bahwa untuk hal2 muamalah segala sesuatu pada dasarnya mubah, kecuali yg dilarang.. untuk ibadah segala sasuatu pada dasarnya haram kecuali yg diperintahkan…
Dan Allah telah menciptakan begitu luas hal2 yg halal untuk kita dengan sedikit hal2 yg diharamkan agar ada hikmahnya bwt kita..
2. Menghalalkan dan mengharamkan adalah hak Allah Semata..
Jadi kita tidak ada celah untuk menghalalkan sesuatu yang diharamkan oleh Allah begitu juga sebaliknya… Dan mengharamkan yg halal dan sebaliknya termasuk kedalam syirik dan akan menimbulkan keburukan dan bahaya..
3.Yang halal tidak memerlukan yang haram..
Sesungguhnya Allah itu Mahaadil dengan mengganti segala sesuatu yg haram dengan kebaikan yang halal, misalkan Allah mengganti mengundi anak panah dengan shalat istikharah, mengganti khamr dengan minuman2 yg lebih baik dan bermanfaat..
4. Hal2 yang membawa kepada yang Haram adalah Haram..
Contoh dalam buku ini adalah zina.. zina merupakan hal yang haram maka setiap hal2 yg membawa pelaku menuju zina hukumnya haram pula, misalnya berpacaran,tidak menutup aurat, berkhalwat, pornografi, dll… itulah mengapa dalam Quran ada ayat “Wala Taqrobu zinaa”
5. Bersiasat kepada yang Haram adalah Haram
Jangan sampai kita berniat menyiasati sesuatu hal yg Haram agar menjadi Halal, contohnya ialah kisah dimana Kaum Yahudi menyiasati hari pantang bekerja mereka sehingga akhirnya mereka dikutuk menjadi monyet..
6. Niat yang baik tidak dapat menghalalkan yang haram…
mungkin kita sering mempelajari dalil tentang segala amal yg penting niatnya, namun sebaik2nya niat tidak mampu menghalalkan yang haram, ini menegaskan bahwa tindakan Robin Hood tidak di Halalkan…
7. Hal2 yg syubhat sebaiknya dihindari..
8. Sesuatu yang haram berlaku untuk semua orang
9. Keadaan terpaksa membolehkan yang terlarang
Namun tentunya pembolehan disini bersifat tertentu yang berlaku ketika ketentuan itu gugur, seperti memakan daging babi dibolehkan jika benar2 terdesak dan memakannya pun tidak sampai kenyang namun sekadar untuk bertahan hidup..Namun memakan daging manusia tidak pernah diperbolehkan sedarurat apapun..
Penulis lebih menyarankan untuk menelaah lebih dalam buku ini sesuai minta masing2 dibidang masing2 karena masih luas cakupan buku ini yg belum dipaparkan…
Sekian smoga bermanfaat..
Seri Manajemen Diri : Mengatasi Minder (dari Arum NF)
(Abdullah Gymnastiar)
Kesombongan adalah salah satu penyakit hati, yaitu perasaan ketika diri merasa “lebih” dari orang lain. Karenanya, seseorang bisa menjadi dibenci orang lain. Namun, merasa diri lebih rendah dari orang lain (minder) juga tidaklah baik. Orang yang minder merasa hidupnya menjadi terbebani bahkan dapat mengakibatkan bunuh diri. Berbeda halnya bila kita merasa rendah diri di hadapan Allah SWT. Sifat ini akan menjadi sangat berharga. Minder dapat diakibatkan oleh beberapa faktor, diantaranya, kondisi fisik, keturunan, status sosial, pekerjaan, dan pendidikan.
Merasa fisik tak sempurna adalah hal yang sangat manusiawi karena selain kelebihan, Allah juga memberikan kekurangan kepada manusia. Kekurangan ini adalah karunia Allah agar manusia saling melengkapi. Kekurangan seseorang bisa menjadi ladang amal bagi orang lain. Misalnya, orang yang bertubuh tinggi dengan senang hati mau mengambilkan buku yang tidak terjangkau oleh orang yang bertubuh pendek. Yang tidak wajar adalah ketika kita menyesali kekurangan tersebut. Allah telah mengingatkan, “Sesugguhnya Kami telah menciptakan manusia dangan sebaik-baik bentuk. Kemudian Kami kembalikan ia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh; bagi mereka pahala yang tak putus-putusnya.”(At-Tin:4-6). Jadi, kita jadikan kekurangan kita sebagai jalan untuk mengerjakan amal-amal shaleh, menuai pahala yang tak putus-putusnya dari Allah SWT. Misalnya, orang yang buta akan terjaga pandangannya. Kebeningan hati dan kejernihan pikiran akan dimudahkan melalui terjaganya pandangan.
Tidak ada alasan untuk merasa rendah diri akibat keadaan orang tua yang memiliki kekurangan, baik dari segi pendidikan, harta, ataupun akhlak mereka, karena orangtualah yang telah melahirkan dan mendidik kita. Ayah Nabi Ibrahim as. adalah seorang pembuat berhala, namun hal itu tidak pernah membuat Ibrahim putus asa, beliau semakin gigih mencari kebenaran sampai rela dipanggang dalam api oleh Raja Namrud. Hingga beliau menempati kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT. Jadi, sebagai anak, tugas kita untuk membimbing dan menolong orangtua.
Minder karena harta sebetulnya wajar karena sudah fitrah manusia untuk cinta pada harta. Namun, menjadi tidak benar jika kita larut di dalamnya. Bukan harta yang menyebabkan seseorang menjadi mulia. Kekayaan tidak menjamin kehidupan yang aman dan sentosa. Kemuliaan itu sesungguhnya didapat ketika kita bertakwa. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak memandang harta dan rupamu. Namun, Allah Melihat kepada hatimu.”
Sebenarnya, tidak ada pekerjaan yang hina di mata Allah selama tidak menentang syariat. Rasulullah bersabda, “Sungguh, pencari kayu bakar itu lebih baik daripada pengemis.”. Jadi, kita akan tetap mulia selama bekerja untuk kebaikan. Sebagai tukang sapu, kita dapat mulia karena tempat yang kita sapu menjadi bersih. Rasulullah pun bersabda, “Kebersihan itu adalah sebagian tanda dari iman.”
“Ilmu”, pada hakikatnya adalah sesuatu yang bisa membuat kita menjadi lebih dekat dengan Alah SWT. Ilmu yang sebenarnya ialah yang sanggup mengantarkan kita mengenal keagungan-Nya dan meraih cinta-Nya, bukan sebatas mengantarkan kita untuk meraih gelar. Ilmu yang sedikit akan menjadi sangat berarti bila digunakan untuk kebaikan yang nyaris tanpa batas dan bila di baliknya tersimpan akhlak mulia. Alkisah, seorang pengusaha asal Jepang begitu dicintai dan dihormati para karyawannya. Bukan karena gelar yang beliau sandang karena memang hanya lulusan SD, tapi karena akhlaknya yang terpuji dan nyaris tanpa cela sehingga perusahaannya menjadi besar dan amat disegani. Artinya, akhlak terpujilah yang menempatkan kita pada tempat yang tinggi di hati manusia, jauh melampaui ketinggian tingkat sekolah yang pernah kita tekuni.
Dari uraian di atas, dapat diambil hikmah bahwa tidak ada alasan kita untuk minder. Sebaliknya, kita harus percaya diri! Sebab, tidaklah Allah melahirkan seseorang ke dunia melainkan telah Ia bekali dengan segala kelebihan yang dapat menjadi jalan baginya untuk mencapai kemuliaan. “Janganlah kamu bersikap lemah, dan jangan (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman”(Q.S. Ali Imran[3]: 139). Wallahu’alam bishshawab.
Isti’ab oleh A Andi
Maraji’ :
Judul Asli : Al-Isti’ab fi Hayatid-Da’wah wad-Da’iyah
Judul Terjemahan : Isti’ab. Meningkatkan Kapasitas Rekrutmen Da’wah
Penulis : Fathi Yakan
Dirangkum oleh : Andi Sasmita
Isti’ab (daya tampung) adalah kemampuan seorang da’i untuk menarik objek da’wah (mad’u) dan merekrut mereka dengan segala perbedaan intelektual, kejiwaan, status sosial dan lain sebagainya.
Da’i yang sukses adalah da’i yang mampu masuk dan dapat mempengaruhi setiap manusia, dengan pemikiran dan da’wahnya sekalipun kecenderungan, karakter, dan tingkatan mad’u beragam. Pada dasarnya kemampuan untuk melakukan isti’ab merupakan keahlian yang paling penting dalam kepribadian seorang da’i. Tanpa isti’ab seseorang tidak akan pernah menjadi da’i karena selain kita harus sholeh secara pribadi juga harus sholeh secara sosial.
Tidak dipungkiri seorang da’i memiliki kemampuan yang berbeda dalam pelaksanaan isti’ab. Meski demikian seharusnya seorang da’i dituntut untuk memiliki batas minimal kemampuan isti’ab, terlebih lagi dalam suatu tanzhim (organisasi/jamaah). Jika standar minimal dalam isti’ab ini tidak deipenihi, maka seorang da’i tidak hanya sekadar tidak produktif tetapi juga bisa menjadi penghalang dalam proses produksi dan menyebabkan kemudharatan bagi Islam dan pergerakan Islam.
Berapa banyak orang yang hidup dalam nuansa da’wah dan memahami prinsip-prinsipnya tetapi tidak mau mentransfer nuansa-nuansa dan prinsip-prinsip itu walaupun hanya selangkah di luar lingkungannya.
Tingkatan-tingkatan kemampuan dalam isti’ab diisyaratkan dalam sebuah hadits:
“Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang dengannya Allah mengutusku adalah bagaikan hujan yang turun ke bumi. Maka ada bagian bumi yang baik, ia menerima air hujan itu dengan baik lalu menumbuhkan tanaman dan rerumputan yang banyak. Ada juga bagian bumi yang menahan air, lalu Allah memberikan manfaat kepada manusia dengan air yang disimpannya, sehingga mereka bisa minum dan menyirami tanaman dari air tersebut. Bagian lainnya adalah padang tandus, ia sama sekali tidak bisa menyimpan air dan juga tidak menumbuhkan apapun. Demikian itu adalah perumpamaan orang yang diberi kepahaman dalam agama, lalu ia dapat memanfaatkan apa yang aku bawa itu, hingga ia senantiasa belajar dan mengatakan apa yang ia pahami. Dan perumpamaan orang yang sama sekali tidak ambil peduli dan tidak mau menerima petunjuk Allah yang aku sampaikan” (HR. Bukhari Muslim)
Isti’ab Eksternal
Yang dimaksud isti’ab eksternal adalah penguasaan terhadap orang-orang yang ebrada di luar da’wah, di luar pergerakan, dan di luar organisasi. Menyebarkan da’wah di tengah masyarakat hingga mereka percaya dan terpengaruh, lalu bergabung dan memperjuangkan da’wah adalah sebuah usaha yang susah dan berat, membutuhkan kemampuan dan berbagai tuntutan yang harus dipenuhi. Siapa pun yang memiliki syarat ini, atau bahkan lebih dari itu maka ia akan menjadi da’i yang sukses. Beberapa ketentuan yang harus dipenuhi seorang da’i dalam proses isti’ab adalah.
- Kepahaman tentang agama
Untuk menjadi da’i tentunya seseorang harus memiliki pemahaman yang memadai tentang Islam. Setidaknya ia mampu membedakan antara halal dan haram, kebaikan dan kejahatan. Juga mengetahui berbagai hal yang wajib dan sunnah, mengetahui masalah aqidah dan hukum.
9. (apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (Az-Zumar :9).
6. Dan orang-orang yang diberi ilmu (ahli Kitab) berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu Itulah yang benar dan menunjuki (manusia) kepada jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji (Saba’ : 6)
18. Kemudian kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), Maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak Mengetahui (Al-Jatsiyah : 18)
2. Teladan yang baik Read more
Komitmen Da'i Sejati ( Teh Ridha..)
Penulis: Muhammad Abduh
Penerbit: Al-I’tishom
Tebal: 232 halaman
Buku setebal 232 halaman ini memberikan kita panduan, tips, sekaligus bagaimana memahami masalah-masalah yang klasik selalu terjadi pada seorang aktivis. Buku ini wajib dibaca bagi seseorang yang mengaku sebagai Aktivis Dakwah Sekolah atau Dakwah kampus. Mengapa? Karena kesungguhan dakwah seseorang itu akan diuji pertama melalui komitmennya (iltizam). “Keputusan seseorang untuk bergabung dalam gerakan dakwah, menuntut orang itu untuk senantiasa meluruskan dan memperbarui komitmennya supaya tidak ada lagi awan keraguan yang menyelimuti dirinya.” Kalau tidak memiliki dasar yang kuat, panjang dan berlikunya dakwah ini akan dapat dengan mudahnya membuat kita goyah di tengah jalan. Bahkan, bukan tidak mungkinakan membuat kita lpa dengan tujuan kita sendiri untuk berada di dalamnya. Bagaimana bisa kita hanya menjalankan kewajiban dakwah ini bila kita tidak senang berada di dalamnya?
Buku ini terdiri dari empat bab. Bab pertama berjudul “apakah bentuk komitmen saya terhadap dakwah?’ Lebih lanjutnya adalah sebuah pengantar untuk memberikan pemahaman singkat mengenaikondisi masyarakat di Mesir di zaman Hasan Al Banna masih hidup. Saat itu, kondisi Mesir msih cukup rawan karena gencarya pengaruh misionaris pada masyarakat yang sebagian besar adalah muslim. Selain itu, pengaruh Barat pada Mesir dianggap memasung kemerdekan Mesir karena mempengaruhi pemerintahan yang berkuasa agar mau berpihak pada mereka. Akibatnya adalah munculnya pemerintahan yang korup, lalim, dan menjadi boneka Negara-negara Barat. Read more
Manajemen Waktu (Yuti Arlan…ininih datanya lengkap…baguus)
Judul Buku: Manajemen Waktu, Seri Manajemen Islam, Panduan Sukses Diri dan Organisasi Buku-3
Pengarang: M. Ahmad Abdul Jawwad
Penerjemah: khozin Abu Faqih
Penerbit: PT Syaamil Cipta Media, Bandung
Tebal: 97 halaman + xvi
Persoalan waktu serta tingkat urgensinya dalam realitas kita, awalnya kecil dan terbatas. Akan tetapi, ia berkembang dan bergerak cepat, hingga menjadi hal nyata yang tidak mungkin kita hindari atau kita abaikan. Untuk itu, setiap manusia dituntut untuk dapat mengelola waktu dengan baik.
Untuk membantu terwujudnya pribadi seperti itu, buku ini memaparkan kaidah-kaidah aplikatif setahap demi setahap sampai tingkat yang paling mahir dan apik dalam mengelola waktu.
Langkah pertama adalah menganalisis sikap kita terhadap manajemen waktu dan mengenali sejauh mana kemampuan kita dalam mengelola waktu. Langkah ini sangat penting dan mendasar sebab target buku ini adalah tercapainya efisiensi waktu.
Langkah kedua adalah menghayati urgensi waktu dan sejauh mana kebutuhan kita pada manajemen waktu serta optimalisasi hidup kita. Waktu adalah modal dasar. Pengelolaan waktu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari manajemen diri. Apabila kita tidak mampu mengelolanya, maka kita tidak akan mampu mengelola sesuatu apapun. Seorang muslim tidak patut menunggu dimotivasi oleh orang lain untuk mengelola waktunya karena ini memang kewajiban masing-masing muslim untuk menyadari urgensi waktu yang dimiliki agar berjuang secara kontinu dan terarah. Read more
Sirah Nabi (Rahayu Mulya..lp judul bukunya..)
Selama 4 pekan ada kejadian besar yang terjadi di mata orang musrik:
- Hamzah masuk Islam
- Umar masuk Islam
- Muhammad Saw menolak tawaran kesepakatan dengan kaum Quraisy
Hal tersebut membuat kaum musyrikin binging, mereka sadar jika darak Muhammad tumpah, maka mekkah pasti digenangi oleh darah manusia.
piagam kezaliman dan kesewenang-wengangan
- kaum musyrikin berkumpul di perkampungan bani Kinanah untuk membuat kesepakatan bersama menghadapi bani Hasyim dan Bani Al-Muthalib
- isi piagamnya: larangan menikah, jual beli, berteman, berkumpul, memasuli rumah , berbicara dengan mereka, KECUALI jika mereka menyerahkan Muhammad untuk dibunuh
- piagam selesai dibuat, lalu ditempel di tembok nagian dalan Ka’bah
- Bani Hasyim dan Bani Muthalib bergabung jadi satu, baik yang muslim maupun yang kafir, kecuali ABU LAHAB
Tiga Tahun Pemboikotan
- keadaan Bani HAsyim dan Bani Muthalib benar-benar mengenaskan dan kelaparan sampai-sampai hanya makan dedaunan dan kulit binatang, sering terdengar rintihan dari anak-anak dan wanita yang kelaparan.
- bahan makanan bisa masuk lewat cara sembunyi-sembunyi, atau mereka hanya dapat berbelanja di bulan suci
- Contoh peristiwa: Hakim Bin hizam pernah membawa gandum untuk diberikan kepada bibinya, Khadijah Ra. Read more
