TSIQAH SEBAGAI MAHARNYA
Ketsiqohan adalah anasir penting bagi kami dan saudara-saudara kami untuk menempuh perjalanan ini. Tsiqoh yang kuat membuat kami secara bersama-sama mampu membuahkan kerja-kerja da’wah yang baik. Dan tanpanya, tak ada amal da’wah yang baik yang bisa kami hasilkan. Kami menyebutnya sebagai mahar dalam perjalanan ini. Sebagaimana mahar yang harus ditunaikan bagi calon suami dan istri saat mereka ingin mengarungi bahtera kehidupan yang lebih luas bersama-sama. Mahar tsiqoh di jalan ini, harus ditunaikan bersama-sama antara kami dengan qo-id (pemimpin) kami di jalan ini
Perbedaannya, jika mahar dalam perkawinan merupakan kewajiban sang suami untuk bisa menjadikan seorang wanita sebagai istrinya, maka mahar tsiqoh dalam jalan da’wah ini harus ditunaikan kedua belah pihak, baik anggota maupun pemimpin. Anggota harus menunaikan mahar tsiqoh kepada pemimpinnya. Pemimpin juga harus memberikan mahar tsiqoh pada anggotanya. Bila itu sudah terpenuhi, maka langkah demi langkah pun akan bisa menapaki perjalanan ini dengan hasil-hasil yang baik. Guru kami, Hasan Al Banna rahimahullah, mengistilahkannya dengan kalimat tsiqoh mutabadilah, atau tsiqoh secara timbal balik antara anggota dan pemimpin, dan sebaliknya.
Prinsip yang harus kami pegang dalam mewujudkan tsiqoh ini, salah satunya adalah sabda Rasulullah saw : “Berbahagialah seorang hamba yang memegang kendali kudanya, kusut masai rambutnya, dan berdebu kakinya. Jika berjaga ia tetap berjaga. Jika bertugas di belakang ia tetap di belakang. Ketika meminta izin tidak diberi izin dan ketika memberi bantuan tidak diperkenankan.” (H.R. Bukhari)
Hadits ini mengajarkan salah satu prinsip utama dalam menumbuhkan tsiqoh. Di dalamnya, tergambar wujud tsiqoh antara pemimpin dan anggota. Sang pemimpin merasakan tsiqoh dengan anggotanya yang pasti akan menjalankan kewajiban yang harus dilakukannya. Dan sang anggota juga merasa tsiqoh dengan sang pemimpin yang pasti menempatkannya pada posisi tertentu untuk emaslahatan. Siapapun harus bersyukur kepada Allah atas posisi dan peran apapun yang dilakoninya di atas jalan da¢wah.
Buah tsiqoh timbal balik ini, bagi anggota adalah ketaatan. Patuh dan taat terhadap pemimpin, selama tidak memerintahkan kepada perbuatan dosa adalah konsekuensi logis dalam berjamaah. Sementara buah tsiqoh timbal balik, bagi qo-id adalah ketenangan dan keyakinan bahwa sebuah amanah da’wah bisa berjalan dengan baik. Sebagaimana perhatian dan pengertian pemimpin terhadap keadaan anggotanya menjadi kewajiban sang pemimpin
Untuk itulah pemimpin sudah seharusnya, untuk menjaga keterpaduan dirinya dengan anggotanya, dengan melibatkan mereka dalam proses syuro untuk mendapatkan keputusan yang terbaik. Dan keputusan syuro itulah yang harus dipegang oleh semuanya, dan dijalani dengan sukarela.Cukuplah kekalahan kaum muslimin dalam perang Uhud menjadi pelajaran bagi kita tentang ketidaktundukan pasukan kepada pemimpin mereka. Anggota harus rela menjadi batu bata yang unik dan khas utnuk mengisi kekosongan bangunan da’wah ini, dengan mensinergikan kemampuannya dengan saudara-saudara yang lain. Jika kesatuan barisan umat ini dibangun dengan mempersatukan keyakinan, hati, niat, tujuan dan manhaj (jalan hidup), yang semuanya mengacu kepada Al-Qur¢an dan As-Sunnah, maka kebangkitan dan kemenangan umat Islam akan semakin dekat kita raih
M. Lili Nur Aulia, Beginilah Jalan Da’wah Mengajarkan Kami, Pustaka Da’watuna.
